D'Journey Diaries

Where Will You Go?

Sampah Pembawa Berkah

Sampah identik dengan kotor, bau, menjinjikkan. Tapi tidak bagi warga Desa Kemudo dan Karanglo, Klaten, Jawa Tengah. Berkat bimbingan PT. Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) dan PT. Tirta Investama (Aqua), sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan membawa keberkahan tersendiri bagi kedua warga desa tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul 7.00 WIB. Kesibukan pagi itu sudah terlihat di Bandara Adisutjipto, yang terletak di daerah Sleman, Kota Yogyakarta. Turun naik penumpang menjadi pemandangan tersendiri, manakala pesawat Batik Air yang saya tumpangi mendarat. Sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri, pesawat Garuda Indonesia siap mengudara.

Ini kedua kalinya saya menginjakkan kaki di bandara yang dulunya dinamakan Maguwo. Meski sudah empat tahun lamanya, bandara ini masih tetap sama. Sebuah papan besar bertuliskan ‘Sugeng Rawuh’ di pintu kedatangan selalu menyambut kami para penumpang. ‘Sugeng Rawuh’ dalam bahasa Indonesia berati ‘Selamat Datang’ dan ‘Welcome’ dalam bahasa Inggris. Sebuah kata sederhana yang menandakan keramahan warga Yogyakarta.

Field trip DBA 2018 di Klaten, Jawa Tengah, Jum’at (12/10) – Minggu (14/10).

 

Mebel Cantik dari Sisa Kayu Pabrik

Kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di Sarihusada. Pabrik susu ternama seperti Bebelac, SGM, Nutribaby dan Lactamil itu tak jauh dari bandara dan dekat sekali dengan Candi Prambanan.

Pemandangan asri mengelilingi pabrik ini. Biasanya, Merapi tampak gagah dari pabrik jika tak terutup kabut seperti pagi itu. Tak jauh dari pabrik, ada sebuah desa. Mayoritas warganya adalah petani. Nama desa itu adalah Kemudo. Sejak 2016, desa ini menjadi salah satu desa binaan program CSR Sarihusada.

Produk kerajinan mebel karya BUMDes Kemudo Makmur.

Produk kerajinan mebel karya BUMDes Kemudo Makmur. Fot: doc. DBA

Setelah mengunjungi pabrik, kami diajak mengunjungi desa tersebut. Di sana kami disambut oleh pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kemudo Makmur. Kepala BUMDes Kemudo Hermawan Kristianto menunjukkan mebel-mebel cantik yang terpajang apik di balai desa. Ada meja, kursi, lemari, dan lain-lain. Mebel-mebel itu terbuat dari kayu jati londo yang merupakan limbah Sarihusada.  Meskipun terbuat dari limbah, mebel-mebel itu diminati oleh masyarakat. Bahkan sudah dikenal di mancanegara.

Saat ini ada 10 pengrajin mebel yang terlibat. Mereka belajar secara otodidak dari video Youtube. Hasil kerajinan mebel mereka unggah di media sosial. Ternyata sambutannya luar biasa, mereka sering mendapatkan pesanan dari kafe-kafe.

Mebel-mebel itu juga memiliki nilai ekonomi tinggi.  Harga untuk satu set meja dan kursi dengan ukuran kecil saja bisa berkisar Rp1.500.000. Omset yang diperoleh setiap bulannya bisa mencapai Rp2 Miliar. “Harganya enggak mahal kok, tapi kreatifitasnya yang mahal” ujar Hermawan.

 

Pupuk Cair Limbah Rumah Tangga

Di luar balai desa ada sekelompok ibu-ibu berdiri di depan meja. Di atas meja itu terdapat beberapa botol bekas yang berisi air seperti susu. Baunya sedikit menyengat. Rupanya itu adalah pupuk cair yang terbuat dari limbah rumah tangga.

Tentu kita menyepakati, kalau dapur menjadi penyuplai sampah setiap harinya. Tak hanya sampah organik sisa sayuran dan buah-buahan, tapi juga sampah anorganik seperti plastik bumbu racik, botol kecap, dan kotak santan kemas. Siapa sangka, sampah organik yang kerap menimbulkan bau busuk saat dibuang, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair yang menyehatkan.

Ibu-ibu sedang memeragakan cara membuat pupuk cair dari sampah dapur.

Ibu-ibu sedang memeragakan cara membuat pupuk cair dari sampah dapur. Foto: doc. DBA

Cara membuatnya sangat gampang. Hastuti, anggota pengelola wisata Desa  Kemudo menjelaskan kita cukup membutuhkan sampah organik, air, dan gula. Cara membuatnya sebagai berikut:

  • Sediakan sampah organik seperti sisa sayuran dan buah;
  • Cacah sampah dengan pisau;
  • Masukkan sampah ke dalam air yang sudah dicampur dengan gula pasir;
  • Fermentasi selama satu minggu;
  • Setiap hari botol harus dibuka sedikit untuk mengurangi gas;
  • Jadilah pupuk cair yang siap digunakan untuk menyiram tanaman. 

Pupuk cair juga bisa dibuat dari bonggol pisang. Khusus bonggol menggunakan gula merah. Cara membuatnya sama saja, namun air yang digunakan adalah limbah cucian beras yang dicampur dengan air kelapa. Setelah itu dimasukkan ke dalam ember tertutup, fermentasi selama satu minggu.

“Pupuk cair ini sangat aman digunakan karena terbuat dari bahan-bahan organik,” tutup Hastuti.

 

Produk Fashion dari Sampah Plastik

Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan menuju Klaten. “Kira-kira satu jam,” begitu ujar kru Panorama Tours menjelaskan jarak tempuh yang harus kami lalui dari Kota Yogyakarta. “Silahkan untuk tidur,” lanjutnya.

Bus saat itu melaju sedikit lambat. Jalanan macet, dengan bus-bus besar yang melintas di antara bus yang membawa kami. Perkiraan waktu sang kru ternyata meleset setengah jam. Kami tiba di pabrik Aqua pukul 8.30 WIB. Di sana kami diajak mengelilingi pabrik dan melihat proses pengemasan air mineral. Kami juga diberikan wawasan mengenai sumber mata air yang digunakan Aqua.

Seperti Sarihusada, Aqua juga peduli terhadap kesejahteraan warga sekitar dengan membuat berbagai program CSR, seperti pengelolaan sampah di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Sriyono penggagas Bank Sampah Sentosa Makmur, Klaten, Jawa Tengah.

Pengelolaan sampah di Desa Karanglo diinisiasi oleh Sriyono yang kini menjadi ketua Bank sampah Rukun Santoso. Pada awalnya masyarakat Desa Karanglo resah akibat macetnya saluran irigasi. Bersama kepala desa, mereka memeriksa penyebab masalah yang terjadi. Ternyata sampahlah yang menjadi biang tersendatnya air mengalir ke sawah. Sriyono kemudian berinisiatif membersihkan irigasi dengan cara memungut sampah. Setelah mengumpulkan banyak sampah , Sriyono bingung mau dikemanakan sampah-sampah tersebut. Ia kemudian meminta pihak Aqua memberikan pelatihan pengelolaan sampah melalui kepala desa.

Mujur nasib Sriyono, permintaannya dikabulkan. Aqua memberikan pelatihan mengenai pengelolaan sampah dan terbentuklah Bank Sampah Rukun Santoso pada 16 Maret 2013.

Warga khususnya ibu-ibu diminta untuk mengumpulkan sampah rumah tangga. Sampah kemudian dipilah. Untuk sampah kaca dan logam dijual kepada pengepul. Namun untuk sampah plastik dan kardus dibuat menjadi kerajinan tangan. Adapun produk kerajinan tangan yang dihasilkan adalah bros, bunga, tas, baju, topi, dan lain-lain. Semua dibuat oleh para ibu-ibu yang tergabung dalam Bank Sampah Rukun Santoso.

Berbagai macam produk fashion yang dibuat dari sampah.

Berbagai macam produk fashion yang dibuat dari sampah. Foto: doc. DBA

Dari produk-produk kerajinan tangan tersebut, tas laptop menjadi produk yang sangat diminati oleh masyarakat khususnya mahasiswa. Baju dan topi dari sampah seringkali dipamerkan pada acara fashion show di Jawa Tengah. Sementara itu kardus-kardus bekas yang masih bagus dijadikan wayang. Aqua pernah memamerkan produk kesenian tradisional itu di Perancis dan berhasil memikat UNESCO. “Produk wayang kami di-upload di website UNESCO,” ungkap Sriyono dengan mata yang berbinar, bangga.

Harga sampah per kilonya Rp11.000. Warga merasa sangat terbantu karena bisa mendapatkan penghasilan. Mujiatun, salah satu anggota bank sampah mengaku dari sampah yang ia kumpulkan selama ini, bisa membiayai anak-anaknya sekolah. Setiap bulan Mujiatun mampu mengumpulkan sampah 8-10 kilo. Sampah-sampah itu ia potong-potong kecil terlebih dahulu sebelum dijual ke distro.

Sriyono menambahkan Bank Sampah setiap bulan bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp60 juta – Rp100 juta.

Warga Desa Kemudo dan Karanglo bisa membuktikan, sampah bisa menjadi sahabat bagi manusia jika tahu bagaimana mengelolanya. Mari bersama-sama mengelola sampah, demi terwujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

” … ayo dipilah-pilah, ayo diolah-olah, sampah dipilah dan diolah.”

#DBA2018 #FieldtripDBA2018

 

 

Advertisements

BBM Naik, Susu Tak Terbeli, Bayi Kurang Gizi

Akan selalu ada imbas dari kenaikan harga BBM, salah satunya adalah meroketnya harga bahan-bahan pokok.

Pagi tadi pukul 10.30, saya baru selesai sarapan ketika Fadli Zon berkicau di media sosial. Lewat akun twitternya @fadlizon, wakil ketua DPR itu mengkritik kebijakan pemerintah soal kenaikan BBM.

“NAIK NAIK BBM NAIK TINGGI TINGGI SEKALI NAIK NAIK LISTRIKPUN NAIK TINGGI TINGGI SEKALI NAIK NAIK PAJAK PUN NAIK TINGGI TINGGI SEKALI KIRI KANAN KULIHAT SAJA BANYAK RAKYAT SENGSARA 2x #2019GantiPresiden #2019PrabowoSandiMenang”

Benar saja, 30 menit kemudian PT Pertamina mengumumkan harga BBM dalam negeri mengalami kenaikan harga. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax naik Rp9000 menjadi Rp10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp12.250 per liter, Pertamina Dex Rp11.850 per liter, Dexlite Rp10.500 per liter dan Biosolar Non PSO Rp9.800 per liter.

Rupiah melemah, BBM naik. Foto: http://semarmotoblog.com

Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus meningkat. “Harga minyak dunia saat ini rata-rata tembus di level 80 dolar AS per barel,” katanya.

Kabarnya pemerintah juga akan menaikkan harga BBM premium paling lambat pukul 18.00, namun nyatanya sampai malam ini kenaikan belum terjadi. Pemerintah berdalih, belum siapnya PT Pertamina menjadi faktor utama ditundanya kenaikan BBM Premium.

Rencananya kenaikan harga Premium di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) menjadi Rp7000 dan di luar Jamali menjadi Rp6.900.

Karena berita itu, twitter hari ini mendadak ramai dengan tagar #BBMnaiklagi. Warganet mengeluhkan kenaikan BBM yang terjadi secara tiba-tiba dan khwatir akan memicu kenaikan harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Saya jadi teringat dengan tragedi Mei 1998. Mahasiswa, buruh, dan masyarakat di berbagai daerah melakukan aksi unjuk rasa penolakan terhadap kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh Presiden Soeharto. Kenaikan BBM dianggap akan mempersulit rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat itu saya masih SD. Orang tua saya guru yang memiliki lima anak. Gaji guru saat itu tidak besar seperti sekarang, walaupun sudah PNS. Keluarga kami pun terkena imbasnya dari kenaikan BBM. “Mangane seeneke wae yo. Opo-opo saiki larang. Sing penting wetenge wareg (Makannya seadanya saja ya. Apa-apa sekarang mahal. Yang penting perutnya kenyang),” ujar bapak saat saya kecil dulu.

Jadi kalau badan saya pendek mungkin akibat kekurangan gizi karena mahalnya harga-harga bahan pokok, tapi tidak diimbangi dengan besarnya penghasilan.

Bicara soal gizi, Sabtu dan Minggu (29-30/9/2018) dan Sabtu (6/10/2018) saya mengikuti Danone Blogger Academy di Kantor Pusat Danone, Gedung Cyber 2, Jalan Rasuna Said, Jakarta. Akademi yang diselenggarakan oleh Danone bekerjasama dengan Kompasiana tersebut bertujuan memberikan pengayaan kepada 20 blogger terpilih seputar bidang nutrisi dan kesehatan  demi terciptanya konten kesehatan ala warga yang berkualitas. Kami mendapatkan materi dari sejumlah akademisi, praktisi, dan profesional. Salah satu di antara mereka adalah Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ir. Doddy Izwardi, MA.

IMG_6483

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ir. Doddy Izwardi, MA sedang memaparkan status gizi Indonesia saat ini. Foto: dok. Danone Blogger Academy 2018.

Doddy mengungkapkan berdasarkan penelitian Kemenkes mengenai tren status gizi balita di Indonesia dari 2014 hingga 2017, masalah gizi masyarakat seperti underweight (kekurangan gizi), stunting dan wasting (kurus) masih berada di luar ambang batas. Yang terparah adalah kasus stunting yang pada 2017 mengalami kenaikan dari yang sebelumnya 27.5 % menjadi 29.6 % .

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru tertampak setelah anak berusia dua tahun. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan.

Meskipun begitu, fisik yang pendek bukan berarti stunting. Ada banyak orang dengan tubuh pendek memiliki IQ yang tinggi seperti Habibie, Einstein dan Jusuf Kalla. “Jadi bukan karena pendek badannya tapi otaknya,” ujar Doddy.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan stunting, yaitu praktik pengasuhan yang tidak baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses ke makanan bergizi, minimnya akses air bersih dan sanitasi.

Oktober tahun lalu, saya pernah mengunjungi Desa Lebak, Banten. Kebetulan saya tergabung di Komunitas TurunTangan, yang pada saat itu sedang mengadakan program Gerakan Banten Mengajar (GBM) di Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Masih jelas diingatan ini, masyarakat desa Lebak hidup dalam kesederhanaan dan berdampingan. Tanah yang subur, pohon yang lebat dan sawah membentang di mana-mana, menyelipkan rasa iri di hati, “alangkah beruntungnya mereka.” Rasa itu kemudian sirna saat saya mengetahui angka pernikahan usia dini, putusnya sekolah, dan kemiskinan di desa tersebut cukup tinggi. Masyarakat juga memiliki kebiasan mandi dan cuci di sungai  serta Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat. Akibatnya, anak-anak rentan terserang penyakit seperti diare dan flu. Penyebabnya tak lain lagi kalau bukan rendahnya edukasi masyarakat tentang kesehatan, nutrisi dan pernikahan usia dini.

Doddy berpendapat selama ini orang Indonesia asal menikah saja. Hanya ijab kabul, bersenang-senang dalam pesta, melakukan hubungan suami istri, tapi tidak memikirkan bagaimana membesarkan anak, “pokoknya go ahead aja, tahunya nanti aja belakangan!”

Seharusnya sebelum menikah, baik laki-laki maupun perempuan memeriksakan dirinya ke dokter. Apakah mereka kekurangan gizi atau tidak? Menderita anemia atau tidak? Khususnya perempuan yang akan mengandung bayi, karena pembentukan semua cikal bakal organ tubuh terjadi pada delapan minggu pertama sejak pembuahan terjadi.  Setelah itu perkembangan penting sebagian organ berlanjut sampai dua tahun pertama kehidupan.

Stunting terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, sebab pembentukan cikal bakal organ tubuh terjadi 8 minggu pertama sejak pembuahan.

Tak hanya mengonsumsi mikronutrien, para ibu seharusnya juga mengonsumsi banyak makronutrien –  nutrisi yang menyediakan energi bagi tubuh – seperti karbohidrat dan protein. Jika selama kehamilan kebutuhan nutrisi itu tidak tercukupi maka stunting bisa saja terjadi.

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Klara Yuliarti, SpA (K), mengamini pernyataan Doddy. Pada anak balita stunting maupun gizi kurang, asupan protein hewani terutama susu dan olahannya lebih rendah dibandingkan anak balita dengan status gizi baik.

Jadi bagaimana jika kenaikan BBM berdampak pada melejitnya harga bahan pokok dan makanan? Mungkin lagu berjudul Galang Rambu Anarki karya Iwan Fals memang benar. “BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, mungkin bayi kurang gizi.”

Jangankan daging dan susu, membeli beras saja mungkin berat bagi rakyat. Imbasnya pada aspek kesehatan yang kurang baik: anak-anak kekurangan gizi.

#DBA2018 #AKADEMIMENULISDBA2018

 

 

 

 

 

Jadi Fasil Enggak Boleh Baper!

Aku meyakini jika manusia bisa menjadi pemimpin. Baik menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, keluarga, organisasi, perusahaan maupun negara. Hanya saja, model kepemimpinan seseorang memang beda-beda dan akan lebih tepat jika berada di tempatnya.

Salah satu pemimpin di tempatku bekerja dulu pernah menjelaskan empat kepribadian manusia terhadap bidang pekerjaan. Ada dominant (koleris), influencer (sanguinis), steady (plegmatis) dan compliant (melankolis) atau yang disingkat sebagai DISC. Mengutip blog http://arie5758.blogspot.com, dalam diagram DISC,

disc-1-2

Sumber: http://arie5758.blogspot.com/2011/10/pengaruh-kepribadian-terhadap-bidang.html#ixzz5RcqVTt2j 

  • Orang yang memiliki perpaduan Koleris dan Sanguin (atau sebaliknya),  biasanya memiliki kemampuan untuk memimpin karena semangat dan kepercayaan dirinya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Sanguin dan Plegmatis (atau sebaliknya), biasanya memiliki kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan.
  • Orang yang memiliki perpaduan Plegmatis dan Melankolis (atau sebaliknya), biasanya punya kemampuan untuk menganalisa karena ketelitian dan kecermatannya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Melankolis dan Koleris (atau sebaliknya), biasanya punya semangat kerja dan produktivitas yang sangat tinggi.

Meskipun orang-orang dominant biasanya cocok menjadi pemimpin, bukan berarti tipe kepribadian lainnya tidak bisa menjadi pemimpin.  Semuanya memiliki kemampuan memimpin di ranahnya masing-masing.

Lalu aku di tipe kepribadian yang mana? 

Dari hasil tes yang dilakukan, menunjukkan aku termasuk dalam kategori Sanguin dan Plegmatis. Sangat cocok bekerja di organisasi atau sebuah komunitas, karena kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan. Bisa dikatakan sebagai tim “hore”. Beberapa pekerjaan yang cocok adalah public relation, marketing, penyiar, presenter, tour leader, selebritis dan fasilitator.

Nah, satu bulan lalu aku mendaftar Kelas Inspirasi Jakarta sebagai fasilitator untuk menjajal kemampuanku di bidang ini.

Menjadi fasilitator untuk komunitas, sebenarnya bukan pertama kalinya untukku. Sebelumnya aku pernah jadi fasilitator untuk 28 komunitas. Rasanya jadi fasilitator 28 komunitas di 28 daerah, yang tentu watak dan budayanya beda-beda itu lumayan bikin mules. Apalagi kalau sedang ada konflik. Karena yang namanya komunitas atau organisasi, dinamika itu pasti ada.

Apa sih fasilitator itu?

Menurut wikipedia, fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi. Di Kelas Inspirasi, fasilitator berfungsi sebagai mediator, pemberi informasi dan arahan, motivator kelompok, peredam konflik dalam kelompok, penyambung antara relawan dan panitia, serta penyambung antara kelompok dengan pihak sekolah.

Jika sebelumnya, aku memfasilitasi anggota komunitas yang mayoritas mahasiswa dan fresh graduate, di Kelas Inspirasi, aku harus menghadapi para profesional yang umurnya sama bahkan lebih tua dariku, serta memiliki pengalaman lebih banyak dibandingkan diriku.

Saat itu aku menjadi fasilitator kelompok 19 yang akan bertugas di SD Negeri Mampang Prapatan 03 pagi. Terdiri dari 16 inspirator, dua fotografer dan satu videografer. Ada yang belum pernah ikut Kelas Inspirasi sebelumnya, ada yang sudah berkali-kali bahkan ada yang pernah menjadi fasilitator. Deg-degannya luar biasa. Aku sadar manage orang kali ini akan sulit dibandingkan sebelumnya.

Di awal perjalanan masih baik-baik saja, di pertengahan waktu dramapun dimulai. Dinamika terjadi. Suasana memanas. Salah satu inspirator tidak sepakat jika kami harus bertugas sampai sore. Meskipun sudah dilakukan pendekatan personal, si inspirator tak mengubah keputusannya. Dia mundur. Disusul dengan satu inspirator tidak mendapatkan cuti dari kantor, dan menjelang hari H, satu inspirator “muntaber” alias enggak pernah datang, muncul di grup lalu mundur.

Bersyukurnya, pada saat pelaksanaan hari inspirasi, acara berlangsung sukses. Inspirator dan dokumentator melaksanakan tugas dengan baik. Sempat terharu, ketika ada inspirator yang telat datang, salah satu inspirator berinisiatif menggantikannya. Kemudian saat salah jadwal untuk kelas satu, salah satu inspirator rela mengajar hingga satu jam namun inspirator lainnya membantu. Itu sangat menyentuh hati. Acara kemudian pecah ketika para inspirator mengajak anak-anak menari saat jingle Kelas Inspirasi diputar. Itu enggak ada di skenario, tapi seru …

DSC01212

Suksesnya acara Kelas Inspirasi kali ini tidak terlepas dari peran serta teman-teman inspirator dan dokumentator. Ada ketua kelompok rasa fasilitator, ada yang enggak pernah muncul digrup tapi justru yang membuat suasana jadi rame saat hari inspirasi, ada inspirator yang sudah berpengalaman jadi fasilitator sehingga bisa memberikan saran-saran demi kelancaran kegiatan, para inspirator dan dokumentator yang bersedia membantu mengerjakan segala sesuatu keperluan kelompok, dari cetak mencetak, PIC konsumsi, gunting menggunting dan lainnya.

Kesimpulan menjadi fasilitator kali ini adalah

1. Enggak boleh baper

Selalu ada dinamika di suatu organisasi, komunitas atau kelompok. Ketika kita sadar tentang hal itu, secara otomatis kita akan berpikir dingin ketika menghadapi konflik. Fasilitator sebagai mediatator juga tidak boleh terpancing emosi apalagi baper. Menjadi penengah saat konflik terjadi dan tidak boleh memihak siapapun. Jangan lupa untuk selalu sabar.

2. Pendengar yang baik

Seperti jargonnya asuransi Prudential, “always listening, always understanding.” Kalau kita mampu menjadi pendengar yang baik, maka kita akan mengerti apa yang menjadi kebutuhan kelompok dan anggota-anggotanya.

3. Tahu dengan background anggota

Penting banget buat fasilitator tahu latar belakang anggota kelompok. Biasanya panitia akan memberikan selembaran kertas yang berisikan nama-nama relawan berikut dengan media sosialnya. Cari tahu mereka dari media sosial dan jangan segan untuk follow. Dari media sosial kita akan tahu bagaimana kepribadian dan kesibukannya. Jadi bebas deh pikiran negatif kalau anggota kelompok ada yang enggak pernah nongol sama sekali di grup. Kita juga bisa mudah memulai pembicaraan dengan mereka.

4. Jangan menyerah

Kalau menghadapi konflik dan kita tidak bisa meredamnya, jangan pernah menyerah. Kita bisa memutar otak, mencari cara lewat buku atau meminta saran dari panitia atau orang yang lebih senior.

5. Terus belajar

Menjadi fasilitator mengajariku untuk memecahkan masalah dan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Meskipun acara kemarin dinilai sukses, bukan berarti aku adalah fasilitator yang baik. Aku masih harus banyak belajar.

 

 

 

 

Meniru Orang Lain

Saat masih kuliah, seorang teman pernah mengatakan aku tak punya jati diri. Setiap kali kagum dengan seseorang, pasti aku ingin menjadi seperti orang tersebut. Aku pernah memiliki keinginan yang menggebu-gebu menjadi jurnalis karena ingin mengikuti jejak Soe Hok Gie yang berani mengkritik pemerintah lewat tulisan. Setelahnya ingin mendaki Mahameru, lantaran aktivis Indonesia Tionghoa itu menghembuskan nafas terakhirnya di gunung tersebut.

Usai membaca buku Kennedy, aku membayangkan diriku menjadi seorang pemimpin di negeri ini. Kennedy memberiku semangat untuk mengejar cita-cita meski lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja.

Suatu hari ketika tak ada satupun orang yang mau mendengarkan impianku, aku mencari dukungan sendiri. Dari buku dan artikel-artikel yang kubaca di internet, aku menemukan banyak cerita tentang  orang-orang sukses. Mereka mewujudkan impiannya setelah semua orang di sekitarnya mengatakan tidak mungkin dan melewati masa-masa sulit. Keyakinannya lantas tak pernah goyah, hingga akhirnya mereka membuktikan bahwa segala sesuatu di dunia ini: MUNGKIN!

Akhirnya aku menemukan orang-orang yang mendukungku dari internet. Salah satunya Merry Riana. Bahkan beberapa bulan tinggal di ibukota, aku menjadi Financial Planner, profesi yang mengantarkan Merry menjadi miliarder muda.

Sejak diriku berhasil menginjakkan kaki di puncak Gunung Gede, aku semakin sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki hobi traveling. Dari mereka, keinginanku untuk menjelajah dunia yang pernah kuutarakan ketika di bangku SD muncul lagi. Apalagi di tahun 2013, untuk pertama kalinya aku melakukan penerbangan  ke luar negeri. Aku terpaksa pergi karena ibu memintaku. Lalu mengajukan cuti kepada atasan untuk membuat paspor di imigrasi.

Buku “30 Paspor di Kelas Profesor” yang ditulis oleh Rhenald Kasali semakin meneguhkan bahwa paspor adalah gerbang melihat dunia lebih luas. Itu diperkuat dengan vlog perjalanan backpacker asal Malaysia Nazri Arshad a.k.a Moji, “Travelogue-Kembara Backpackers Bersama Moji” yang tak sengaja ku tonton pada 2015.

Moji melakukan perjalanan melalui perjalanan darat ke lima negara yaitu Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam dan Kamboja. Pengembaraanya itu disiarakan secara realiti di channel Youtube sebanyak 13 episode. Berbekal paspor Moji bisa mengenal kebiasaan masyarakat, sejarah, dan makanan khas setiap negara. Ia bertemu banyak backpacker dari berbagai negara dan mengungkap alasan para backpacker dari berbagai belahan dunia melancong ke negara Asia.

Tak hanya cerita suka saja yang Moji bagikan kepada kami pecinta traveling. Di beberapa episode Moji memperlihatkan bagaimana perjuangannya melintasi satu negara ke negara lainnya. Ia pernah menginap di hostel dengan fasilitas seadanya demi menghemat, kehabisan uang, hingga ketinggalan barang di dalam bus. Ia bahkan pernah  menginap di dermaga menunggu kapal berikutnya datang dan menyebrangi sungai dengan rakit bambu.

Sebelumnya di pertengahan 2014, aku menemukan sebuah buku yang mengulas perjalanan seorang traveler. Judulnya, “Life Traveler” karya Windy Ariestanty. Buku itu menyampaikan pesan tentang arti dari setiap perjalanan yang dilakukan. Memanifestasikan makna dari setiap kejadian dan pertemuan dengan seseorang.

Salah satu kutipan dari buku Life Traveler, “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya. Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun. Because travelers never think that they are foreigners.” 

Kalimat itu membekas di pikiranku, maka saat teman-teman meninggalkanku di Bali seorang diri awal 2015, meski sedih aku tak merasa kesepian. Inilah awal solo traveling pertamaku.

Seorang teman dari pendakian Gunung Rinjani di tahun 2014, mengirimkanku poster informasi mengenai workshop menulis di Yogyakarta. Semenjak aku sering berkelana di banyak tempat, ada hasrat untuk membagikan pengalamanku kepada orang lain lewat tulisan. Kemudian aku nekat mendaftar. Kebetulan saat itu long weekend dan aku belum pernah mengeksplore panorama alam kota ini.

Aku baru tahu salah satu narasumber workshop adalah Anida Dyah, traveler dunia asal Indonesia yang telah berkelana hingga kutub utara. Anid telah menulis buku berjudul “Under The Southern Stars” yang berkisah empat traveler dari empat benua yang mengarungi alam Australia. Menjelajahi hutan eukaliptus, melintasi gurun, meniti patahan Antartika, hingga bertemu kanguru dan koala.

Di dalam sebuah gubuk bambu di tepi Pantai Watu Kodok, Anid membongkar cerita bagaimana dia memulai menjadi solo traveler. Diam-diam aku ingin seperti Anid, berusaha memperoleh visa work and holiday, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya di negeri orang, lalu menjelajah dunia ini. Aku ingin melihat pegunungan New Zealand dan hamparan bunga tulip di Belanda.

Jujur, bisa dibilang 70% dari hidupku karena terinspirasi dari hidup orang lain. Entah informasi itu aku dapatkan dari buku, internet maupun bertemu langsung. Bagiku mengagumi dan meniru mereka bukan tak punya jati diri. Namun, menemukan passion-ku yang sesungguhnya. Bagaimana cara aku akan menjalani hidup.

Nyatanya berkat mereka, aku bisa menjadi seperti sekarang. Menjadi pribadi yang tangguh dan berani — mewujudkan impian dan menjalani hidup yang kuinginkan. Yeah, menjadi traveler dan penulis lepas — ini aku yang sekarang.

Jakarta, 11 Agustus 2018

 

Kebaikan yang Terbalas Indahnya Sunset

Kapal tradisional membawa saya dan ratusan teman perlahan meninggalkan Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke di Minggu pagi April dua tahun silam. Lepas dari Muara Angke, kapal itu mengarungi Teluk Jakarta yang kala itu sedang tenang.

Tujuan kami ke Kepulauan Seribu, wisata bahari yang tak jauh dari ibukota. Bukan untuk berlibur, tapi dalam rangka mengikuti pogram kelas inspirasi yang diadakan oleh Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP). Kami yang jumlahnya ratusan dibagi ke dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok ditempatkan di pulau yang berbeda yaitu Pulau Pramuka, Harapan, Lancang, Kelapa dan Pari.

Saya mendapatkan tugas di Pulau Pramuka. Bersama 18 relawan yang terdiri atas 13 relawan pengajar, tiga dokumentator dan dua fasilitator, saya akan mengajar di SDN Panggang 02. Rencananya kami akan menginap di Kepulauan Seribu selama dua malam. Sebab pelaksanaan kegiatan dilakukan seharian penuh pada hari Senin.

Perjalanan menuju Pulau Pramuka akan ditempuh selama 1 jam 35 menit. Dibandingkan dengan empat pulau lainnya, Pulau Pramuka memang yang paling terdekat. Kapal sengaja di sewa oleh panitia untuk mengantarkan kami dari satu pulau ke pulau lainnya.

Perjalanan semakin terasa menyenangkan. Duduk di kursi penumpang, saya dan teman-teman menikmati pemandangan laut yang terbentang luas tanpa batas. Angin bertiup sepoi-sepoi, langit cerah dan laut berwarna biru. Gugusan pulau mulai terlihat satu demi satu. Segerombol burung-burung nampak berterbangan di pulau-pulau yang kami lewati.

Setelah satu jam lebih, akhirnya kami tiba di Pulau Pramuka. Kapal merapatkan diri ke dermaga. Di sana, berdiri pak lurah dan ibu kepala sekolah yang sejak 10 menit lalu telah menunggu kedatangan kami. Saya dan ke-18 teman pun turun dari kapal. Disambutnya kami dengan sangat ramah oleh masyarakat, sementara teman-teman yang lain melambaikan tangannya dari kapal yang perlahan menjauh dari dermaga.

Kami dibawa oleh Ibu Kepala Sekolah ke lokasi penginapan yang tak jauh dari dermaga. Penginapan terdiri atas ruang tamu, ruang tengah, tiga kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur. Untuk soal makanan, kami tak bingung lagi, sebab pemilik rumah telah memesankan katering selama kami menginap.

Hari pertama di Pulau Pramuka, kami isi kegiatan dengan nonton bareng film edukasi bersama masyarakat dan menggelar permainan edukasi lingkungan bagi anak-anak Pulau Pramuka. Usai kegiatan kami kembali ke penginapan untuk istirahat dan mempersiapkan kegiatan untuk keesokan harinya.

Hari inspirasi tiba. Pagi sekali sekitar pukul 6.30 kami sudah tiba sekolah. Murid-murid SDN Panggang 02 mulai berdatangan. Wajah-wajah mereka tampak sumringah dengan kedatangan kami. Sekitar pukul 7.00 mereka berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Kami pun ikut upacara bersama mereka dan para guru. Entah sudah berapa lama saya tak melakukan upacara bendera. Seingat saya terakhir kali upacara saat SMA. Maka upacara saat itu terasa nikmat sekali.

“Anak-anak kita kedatangan bapak dan ibu guru dari beragam profesi. Nanti mereka akan memperkenalkan profesi mereka supaya kalian punya cita-cita tinggi,” ujar ibu kepala sekolah usai upacara selesai.

“Horeeee …..,” sorak anak-anak bergembira.

Para murid kemudian digiring ke kelasnya masing-masing. Kami para relawan mendapat tugas mengajar di semua kelas secara bergantian. Mayoritas dari kami tidak memiliki latar belakang pengajar. Sehingga tugas ini terasa sulit. Tak sedikit dari kami kewalahan menghadapi anak-anak. Mengajar ternyata bukan pekerjaan mudah. Menghadapi puluhan anak-anak dengan perilaku yang berbeda setiap harinya cukup menguras tenaga. “Betapa mulianya para guru di dunia ini,” gumam saya.

Meskipun begitu, kami berusaha keras demi tujuan mulia: membagi cerita dan pengalaman yang kami geluti sehari-hari kepada anak-anak agar mereka terinspirasi untuk memiliki cita-cita tinggi. Bukan lagi sekedar ingin menjadi nelayan seperti orang tuanya, tapi lebih tinggi dari itu.

Kegiatan ditutup dengan anak-anak yang menuliskan mimpinya di secarik kertas dan menempelkannya di pohon cita-cita yang sudah kami siapkan. Pohon cita-cita itu kami serahkan ke pihak sekolah untuk dipasang di sekolah. Kelak, ketika mereka malas belajar akan mengingat impiannya.

Sore hari kami menuju pantai untuk menikmati keindahan pantai yang sejak kemarin telah mengusik kami. Beberapa teman, ada yang duduk-duduk sambil mengobrol, menikmati semangkuk mie rabus dan melamun. Sementara saya, memilih untuk mengelilingi Pulau Pramuka dengan sepeda yang saya sewa Rp. 30 ribu per hari.

Dari itu saya tahu bahwa Pulau Pramuka merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Tata tempat tinggal dan sanitasi pulau pramuka cukup baik. Sarana prasana cukup memadai mulai dari masjid, rumah sakit, sekolah, dermaga dan TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Villa dan penginapan bagi pengunjung wisata banyak dijumpai di sini.

Di pulau ini juga terdapat sarana pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang saat ini jumlahnya sudah sedikit sehingga dilindungi. Selain itu terdapat pula penanaman bakau sebagai upaya perbaikan pertahanan pantai

Untuk mencapai pulau ini bisa melalui perjalanan laut dengan perahu motor tradisional dari pelabuhan nelayan Muara Angke seperti yang saya lakukan atau dengan perahu motor cepat (speedboat) dari dermaga kapal Marina Ancol. Apabila ingin melakukan perjalanan ke pulau lainnya di Kepulauan Seribu, pengunjung dapat menyewa ojek perahu untuk diantar langsung ke Pulau PanggangPulau KaryaPulau Semak Daun, dan pulau-pulau lainnya.

Sore hari, lansekap laut Pulau Pramuka semakin menarik. Kami dapat menyaksikan matahari terbenam dari bibir pantai. Langit kemudian menjadi berwarna kuning menuju oranye, membentuk garis lampu yang indah. Perahu-perahu nelayan yang mulai turun melaut mulai terlihat di kejauhan.

Semakin sore, langit mulai nampak memerah dan semburat oranye-nya menghilang. Cahaya merah yang memancar di lautan menjadi pemandangan yang sangat cantik. Saya setuju dengan kalimat “Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.” Kebaikan yang kami lakukan selama di Pulau Pramuka ini dibalas dengan indahnya matahari terbenam Pulau Pramuka yang eksotis.

Pernah dipublish di Pandumu.id: https://pandumu.id/indahnya-sunset-pulau-pramuka/ 

Kepulauan Seribu, Wisata Bahari di Ibukota

Tak banyak yang tahu, Jakarta memiliki wisata bahari yang sangat cantik. Kepulauan Seribu namanya. Salah satu gugusan kepulauan yang terletak di sebelah utara Jakarta, tepat berhadapan dengan teluk Jakarta.

Meski namanya Pulau Seribu, jumlah pulau yang ada di kepulauan ini hanya 342 pulau, termasuk pulau-pulau pasir dan terumbu karang yang bervegetasi maupun tidak. Ratusan pulau itu, tidak semuanya berpenghuni. Namun menawarkan banyak potensi seperti pertambangan, perikanan dan pariwisata.

Kepulauan Seribu mendapat julukan sebagai Maldiven van Java. Keindahan pulau-pulau tropis yang jaraknya berdekatan bagaikan Maladewa, negara kepulauan di Samudera Hindia yang berhasil mencuri perhatian dunia. Pulau-pulau itulah yang kerap dijadikan warga Jakarta dan sekitarnya melarikan diri dari kebisingan kota di akhir pekan.

Ada 15 pulau yang biasanya dikunjungi untuk berlibur, yaitu Pulau Pramuka, Tidung, Lancang, Harapan, Ayer, Bidadari, Onrust, Kotok, Putri, Sepa, Pari, Kelor, Air, Papatheo, dan Semak Daun. Semua pulau menawarkan taman bermain berupa pantai dan air yang alami. Banyak hal yang bisa dilakukan wisatawan, mulai dari menyisir pantai, berperahu, jet ski, dan snorkelinghingga scuba-diving jauh ke dalam lautan.

Di sana ada juga peninggalan kolonial Belanda yang bisa dieksplorasi lebih jauh, berupa taman arkeologi sekaligus cagar alam untuk pengembangbiakan penyu sisik dan perlindungan hutan bakau.

Beberapa jenis flora dan fauna juga bisa ditemukan, seperti terumbu karang, bintang laut, ikan betok (anabas testudineus bloch) dan ikan ornamental Sargent Mayor.

Transportasi

Untuk menuju ke masing-masing pulau di Kepulauan Seribu bisa dengan empat cara, yaitu dengan kapal tradisional (kapal kayu), kapal PELNI, kapal feri, dan kapal cepat (KM. Kerapu atau speedboat). Jika memilih naik kapal tradisional atau KM. Kerapu atau kapal feri, kita bisa menuju Pelabuhan Kaliadem yang terletak di belakang Pasar Ikan Muara Anke. Namun jika ingin naik speedboat, maka kita harus naik dari Dermaga Marina, Ancol. Sementara, untuk naik kapal PELNI, kita harus naik dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

  1. Kapal Tradisional

Jadwal keberangkatan kapal tradisional dari Pelabuhan Kaliadem dari Senin hingga Jum’at pada pukul 7.00 WIB dan Sabtu pada pukul 7.00-7.30 WIB. Dari masing-masing pulau, dari Senin sampai Kamis dan Sabtu pada pukul 7.30 WIB. Sedangkan hari Jum’at dan Minggu pada pukul 7.30, 10.00, dan 13.00 WIB.

Harga tiketnya (belum termasuk biaya peron Rp. 2000/orang), dari dan ke Pulau Pramuka/Panggang sebesar Rp. 45 ribu/orang, Pulau Tidung sebesar Rp. 45 ribu untuk non-AC dan Rp. 86 ribu untuk AC, Pulau Kelapa/Harapan sebesar Rp. 55 ribu/orang, dan Pulau Pari sebesar Rp. 40 ribu/orang.

  1. KM. Kerapu

Loket dibuka pada pukul 6.30 WIB dan tutup pada pukul 7.30 WIB. Jadwal keberangkatan dari Pelabuhan Kaliadem setiap hari pukul 9.30 WIB dan pukul 11.00 WIB. Dari masing-masing pulau setiap pukul 13.00 WIB dan pukul 14.00 WIB.

Harga tiketnya (belum termasuk biaya peron dan biaya asuransi Jasa Raharja Rp. 2000/orang), untuk Pulau Untung, Jawa, Lancang, dan Pari sebesar Rp. 40 ribu per orang dan untuk Pulau Payung, Tidung, Pramuka, dan Kelapa sebesar Rp. 50 ribu per orang.

  1. Kapal Feri KMP Kendur

Jadwal keberangkatan KMP Kendur dari Pelabuhan Kaliadem setiap Sabtu, Selasa, dan Kamis pada pukul 7.00 WIB dan dari Pulau Harapan/Kelapa setiap Minggu, Rabu dan Jum’at pukul 7.00 WIB.

Harga tiketnya (sudah termasuk biaya peron dan biaya asuransi Jasa Raharja Rp. 2000/orang), Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Untung Jawa: Rp. 38 ribu (dewasa) dan Rp. 25 ribu (anak-anak), Pulau Untung Jawa ke Pulau Pramuka: Rp. 40 ribu (dewasa) dan Rp. 26 ribu (anak-anak), Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Kelapa: Rp. 46 ribu (dewasa) dan Rp. 33 ribu (anak-anak), Pulau Untung Jawa ke Pulau Kelapa: Rp. 42 ribu (dewasa) dan Rp. 27 ribu (anak-anak), Pulau Pramuka ke Pulau Kelapa: Rp. 36 ribu (dewasa) dan Rp. 24 ribu (anak-anak), dan Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Pramuka: Rp. 44 ribu (dewasa) dan Rp. 28 ribu (anak-anak).

  1. Kapal PELNI

Jadwal keberangkatan Kapal KM Sabuk Nusantara 46, dari Pelabuhan Sunda Kelapa setiap hari Sabtu, Senin, dan Rabu pukul 8.00 WIB. Sementara Express Bahari, dari Pelabuhan Sunda Kelapa setiap hari Sabtu, Senin, dan Rabu pukul 8.00 WIB dan 13.30 WIB. Dari Pulau Tidung setiap pukul 10.30 dan 15.30 WIB.

Harga tiketnya (belum termasuk biaya peron dan asuransi Jasa Raharja Rp. 2000/orang), KM Sabuk Nusantara 46 Rp. 15 ribu/orang dan Express Bahari Rp. 75 ribu (kelas bisnis), Rp. 100.000 (kelas eksekutif), dan Rp. 125 ribu (kelas VIP).

Akomodasi

Jangan khawatir jika berencana bermalam di Kepulauan Seribu. Karena di sini banyak terdapat homestay dan penginapan sederhana yang cukup nyaman. Mayoritas penginapan memiliki fasilitas yang lengkap seperti AC, dapur dan kasur springbed. Harga sewanya beragam. Tergantung pada fasilitas yang tersedia.

Jika liburan dengan rombongan, alangkah baiknya menyewa satu rumah yang terdiri atas 2 – 3 kamar. Kisaran tarifnya Rp. 1 juta per malam. Sementara untuk homestay sederhana, tarifnya berkisar Rp. 200 ribu hingga Rp. 400 ribu.

Makanan

Soal makanan juga jangan khawatir. Di sana banyak terdapat warung makanan. Ada juga minimarket di Pulau Pramuka, ibu kota dari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kalau tak mau repot, kita bisa memesan katering pada penyewa rumah dengan harga yang relatif murah. Dengan Rp. 15 ribu per orang, kita bisa makan dua macam lauk, sayur dan minuman.

Sewa Kapal

Biaya sewa kapal untuk ke pulau-pulau kecil sekitaran pulau yang kita datangi pun relatif murah. Untuk kapal kecil kapasitas enam orang, kita cukup merogoh kocek Rp. 300 ribu saja. Sedangkan kapal besar, kapasitas 10 orang, biaya sewanya mulai dari Rp. 400 ribu per hari.

Bagaimana, cukup mudah dan murah berlibur di Kepulauan Seribu bukan?

Pernah dipublish di Pandumu.id: https://pandumu.id/kepulauan-seribu-wisata-bahari-ibukota/

Ingin Belajar Mode? #AyoKeUK Tonton Royal Ascot, Balap Kuda Bergengsi di Dunia

Britania Raya (Great Britain), yang lebih dikenal dengan United Kingdom (UK) merupakan negara kepulauan yang terletak di laut lepas pantai barat laut benua Eropa. Negara ini terdiri atas empat negara yang berada di dalam kedaulatan Britania Raya; Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales.

Banyak yang menarik dari UK. Tak heran jika banyak orang yang ingin bertandang ke negara ini.

Karena negara kepulauan, UK memiliki tanah yang subur dan pemandangan alam yang mempesona. Ada empat musim di UK: springsummerautumn, dan winter. Bagi yang ingin merasakan dinginnya salju dan melihat daun-daun berubah menjadi ‘bunga’ yang berwarna merah dan kuning, UK bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi.

UK memiliki budaya yang sangat terkenal di dunia, terutama seni musik dan seni rupa. Pusat kebudayaan yang terkenal terdapat di London. Di sana terdapat banyak bangunan kuno yang masih dipertahankan dan dirawat dengan baik, seperti The Victoria dan Albert Museum. Bangunan lain yang sangat terkenal seperti Big Ben, London eye, dan Buckingham Palace juga sangat menarik.

Beberapa tempat di UK pernah menjadi latar berbagai film yang mendunia. Harry Potter misalnya. Pemerintah kemudian membangun Harry Potter Studio. Setiap harinya tempat ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai negara.

Dan bagi pecinta olahraga, siapa yang tak kenal Liverpool, Arsenal dan Manchester United. Klub-klub sepakbola itu melahirkan pemain-pemain sepakbola yang hebat nan mendunia.

Ketika di beberapa negara suara wanita tidak dianggap, di UK kekuasaan tertinggi negara justru ada pada ratu. Berbagai hal mengenai kerajaan juga sangat menarik perhatian. Dari tradisi kerajaan, penjaga istana sampai taksi ‘Black Cabs’ yang unik. Tentu kita masih ingat, betapa fenomenalnya Lady Diana sampai sekarang. Dan betapa gantengnya Pangeran Charles, membuat para wanita jatuh hati, terpesona.

Ada event bergengsi yang digelar setiap tahunnya oleh kerajaan Inggris. Yaitu Royal Ascot, sebuah pertandingan berkuda bagi keluarga kerajaan dan kalangan bangsawan. Kabarnya, Royal Ascot menjadi pertandingan favorit Ratu Elizabeth II. Ia tak pernah absen menyaksikannya setiap tahun.

Royal Ascot sudah diselenggarakan sejak 11 Agustus 1711. Peserta balapannya datang dari seluruh dunia yang disponsori oleh orang-orang kaya. Mereka berkompetisi di hadapan keluarga kerajaan Inggris, tamu-tamu undangan khusus dan para penonton yang mampu membeli tiketnya. Jumlah penonton Royal Ascot mencapai ribuan dan kini, pemerintah Inggris menjadikan Royal Ascot sebagai wisata terbuka untuk umum. Untuk menonton, cukup membeli tiket seharga GBP 46 atau sekitar Rp.791.000 untuk hari biasa dan GBP 191 atau setara dengan Rp.3,2 juta di hari ketiga. Namun, jangan harap bisa duduk sembarangan. Beberapa tribun hanya bisa ditempati oleh keturunan bangsawan Inggris. Semakin depan tempatnya, semakin tinggi stratanya.

Hal yang menarik dari turnamen ini adalah pameran fashion dari para penonton. Kalau kita berpikir menonton balapan kuda hanya bisa mengenakan baju casual seperti kaos dan kemeja yang dipadukan dengan jeans, itu salah. Kenapa? Karena penonton harus mematuhi aturan busana yang telah ditetapkan, seperti wanita harus menggunakan pakaian formal yang sopan dan menggunakan topi.

Selama lima hari race, para bangsawan, tak terkecuali dengan keluarga kerajaan, datang dengan pakaian yang bagus-bagus. Royal Ascot bak fashion runway yang glamor dan berkelas. Kini, Royal Ascot menjadi ajang aktualisasi serta show off kreativitas dan fashion taste sekaligus momentum untuk menegaskan strata sosial.

Pada hari ketiga, Ascot Racecourse – lintasan balap kuda legendaris di Ascot, Berkshire, Inggiris – didominiasi oleh sekelompok perempuan elite inggris. Sehingga disebut sebagai ladies day. Mereka menggunakan gaun cocktail dan topi couture. Tak heran jika ada yang mengatakan perempuan elite di Inggris menyimpan baju dan topi terbaik mereka untuk Royal Ascot.

Ada peraturan aneh yang tertulis untuk pengunjung: Jangan gunakan topi atau pakaian yang sama setiap hari. Ratu Elizabeth II pernah dikiritik oleh media karena menggunakan warna topi yang sama selama dua hari.

Bagaimana dengan kostum para lelaki? Biasanya mereka mengenakan kostum tuksedo dan top hat.

Walau begitu, dalam beberapa tahun terakhir, tren mode di Royal Ascot terus berkembang mengikuti zaman. Gaun cocktail kini berganti dengan strapless dan rok mini yang seksi. Laki-laki mengganti tuksedo dengan jas yang dipadukan dengan dasi.

Yang jelas, Royal Ascot bukan lagi sekedar tradisi yang terjaga, melainkan pesta kostum bagi masyarakat dunia. Perancang busana Indonesia, Deden Siswanto, bahkan mengikuti perkembangan busana yang muncul di Royal Ascot sejak 2005 sebagai salah satu referensinya. So, bagi yang suka dengan fashion dan ingin melihat bagaimana gaya berpakaian keluarga kerajaan dan bangsawan Inggris terkini, #AyoKeUK #WTGB #OMGB untuk datang ke acara ini. Siapa tahu kamu dapat ide berbusana yang bisa kamu pakai untuk berbagai acara seperti pesta.

Sumber:

Jawa Pos, 1 September 2017

http://www.indosport.com/multisport/20170527/5-event-olahraga-prestisius-tontonan-para-miliuner-dunia/royal-ascot

https://gaya.tempo.co/read/478008/demi-martabat-aristokrat-inggris

http://www.berbagaireviews.com/2017/10/negara-inggris-britania-raya-united.html

Pelajaran dari Sebuah Pertemuan

Baru saja saya bertemu dengan seorang teman. Dia seorang musisi dan animator muda. Anak dari musisi dan artis sinetron legendaris yang sekarang memilih jalur di politik. Kami mengobrol banyak hal di sudut kedai kopi di daerah Jakarta Selatan. Topik yang paling sering kami bicarakan apalagi kalau bukan soal Pilkada. Kebetulan dia berpihak kepada salah satu calon.

Sekian lama tak bertemu saya pikir hidup dia baik-baik saja. Setahu saya, dia sedang merintis album baru dan karirnya sedang menanjak. Wajahnya sering terlihat di televisi. Namanya seringkali mentereng di poster-poster acara ini itu. Beberapa bulan belakangan ini, dia kerap muncul di media sosial salah satu calon. Bangga pasti. Setidaknya itu yang saya rasakan dulu saat menjadi salah satu timses capres  di tahun 2014.

Baik, santun, humble, inspiratifBegitu kesan saya terhadapnya sejak pertama kali bertemu dua tahun lalu, pun sampai hari ini. Dia sendiri menuturkan kalau sukarela dan ikhlas membantu salah satu calon. Meskipun akibat itu, karirnya terseok-seok kini. Beberapa klien membatalkan kontrak lantaran kontra dengan calon yang ia dukung. Dia banyak mendapat hujatan di media sosial. Keluarganya bahkan tak lepas dari bully para netizen. “Resiko dari keputusan yang sudah diambil,” katanya.

Sulit memang. Tapi dia justru bersyukur dengan kondisi ini. Dia jadi tahu mana teman dan mana lawan. Siapa yang tulus siapa yang berteman karena ada maunya. “Soal rejeki aku enggak khawatir lagi. Aku ingat dengan pesan seorang teman bahwa rejeki manusia sejak dari bangun tidur di waktu subuh, sudah diatur oleh Allah. Rejeki Allah yang kasih” katanya lagi.

Pertemuan yang singkat itu membuat saya belajar banyak hal. Tentang keyakinan atas jalan yang dipilih dan keyakinan atas Tuhan bahwa Dia yang mengatur kehidupan manusia termasuk rejeki, lalu buat apa khawatir?

“Semua akan indah pada waktunya,” pesan dia sebelum beranjak pulang sembari memeluk saya.

Begitulah indahnya bercengkrama dengan manusia. Selalu ada pelajaran yang didapat. Semua orang yang ditemui bisa memberikan perspektif baru untuk menjalani kehidupan agar lebih baik lagi. Itu kenapa saya senang bertemu banyak orang dengan beragam latar belakang.

Kapan Menikah?

Umur semakin bertambah semakin banyak pressure yang didapatkan dari orang-orang sekitar. Seperti pertanyaan, “kapan menikah?” Enggak di kantor, di rumah maupun di komunitas. Belum lagi tiap hari mesti dipusingkan dengan topik jodoh yang berhamburan di media sosial. Seolah hidup itu enggak ada topik lain selain jodoh atau menikah.

Mungkin ini kali ya yang bikin hidup akhir-akhir ini terasa membosankan. Kadang kepikiran buat pergi jauh ke tempat yang penduduknya enggak ngebahas soal itu tapi lebih “esensi hidup kita di dunia itu apa?” Bermanfaat buat orang lain, membuat sesuatu perubahan untuk dunia yang lebih baik, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri dari dulu selalu ada pattern bahwa setelah lulus sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak-nikahin anak. Lalu perempuan enggak boleh menikah di atas 30 tahun. Yang takutnya susah punya anak lah, resiko terkena kanker, dan ujung-ujungnya secara sosial akan dikucilkan gitu aja.

Padahal yang namanya hidup orang itu sudah pasti beda-beda. Bisa jadi ada hambatan-hambatan lain di hidup orang bersangkutan, makanya enggak bisa mengikuti pattern tadi. Tapi di sini, hidup orang malah dipaksa sama. Enggak sedikit orang yang akhirnya merasa tertekan ketika menghadapi situasi ini.

Hampir tiap hari lho  dengerin orang curhat tentang “duh kapan aku menikah”, “jodoh aku di mana ya”, “temen-temenku udah pada nikah tapi aku belum”, “ditanyain keluarga mulu, calonnya mana.” Bahkan pernah ikut kajian tentang jodoh yang dateng ada 3000 orang. Hampir 90 persen single dan kedatangan mereka sebenarnya karena sedang mencari solusi atas pressure-nya.

Lama kelamaan aku jadi mikir, sebenernya aku maupun mereka enggak perlu musingin soal ini. Seperti yang aku tulis sebelumnya, hidup orang itu beda-beda. Kalau Tuhan emang belum mengizinkan buat menikah sesuai sama aturan masyarakat, mau gimana?

Abaikan omongan orang. Yang tahu kebutuhan hidup kita adalah kita sendiri. Khawatir ataupun enggak khawatir, toh ujung-ujungnya nanti sama. Kita akan sampai tujuan juga meskipun jalan yang ditempuh teramat pelan. Yang terpenting selalu usaha dan doa.

Daripada galau, alangkah baiknya sekarang isilah waktu dengan hal-hal yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain.

Akhir Kisahnya Jadi Awal Ceritaku

Adventure menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan buat saya belakangan tahun ini. Dengan berpetualang bisa membuka perspektif baru saya dalam memandang dan menemukan makna hidup. Itu kenapa, kala jenuh saya akan memilih untuk melakukan perjalanan.

Sebulan lalu saya pernah memutuskan untuk pergi ke Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lasem akhir-akhir ini populer di kalangan para traveler dan pecinta budaya. Cerita mengenai Lasem mengusik saya untuk mengangkat ransel lagi, meskipun seorang diri.

Berbekal informasi yang saya dapatkan dari google, saya menuju Lasem menggunakan kereta menuju Semarang, dilanjutkan dengan bus tujuan Surabaya dari Terminal Terboyo. Hampir semua bus tujuan Surabaya dari terminal tersebut melewati Lasem. Saya naik bus ekonomi bertuliskan kaloka. Tarifnya murah, hanya Rp. 25.000, tapi tidak pakai AC. Menurut kondektur, kira-kira saya akan sampai pada pukul 12 siang. Berdasarkan cerita dari orang-orang, jarak tempuh Semarang ke Lasem memang 2 jam. Saat itu, bus berangkat pukul 9 pagi.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat pemandangan alam Jawa yang memukau. Kanan-kiri jalan terhampar sawah, bukit, dan tambak ikan. Saya mesam-mesem, masih enggak percaya, kok bisa-bisanya saya pergi sejauh ini seorang diri. “Yeay, adventure lagi, Petualangan Yus, hahaha,” batin saya.

Kata Petualangan Yus ini terinspirasi dari film Petualangan Sherina. Film drama musikal anak yang diputar di bioskop pada tahun 2000. Saat itu saya masih SD Tapi baru nonton sewaktu SMP di rumah tetangga, yang kebetulan punya VCD film Petualangan Sherina. Saya tinggal di kampung, enggak ada bioskop. Tahu pertama kali tentang film ini di majalah bobo. Tapi ya cuma bisa ngiler.

Film Petualangan Sherina menceritakan seorang gadis cilik yang sangat aktif, cerdas, tidak takut pada apapun, dan suka berpetualang. Suatu hari Sherina harus pindah ke Bandung, karena ayahnya diterima bekerja oleh Pak Ardiwilaga, seorang pemilik perkebunan di Lembang. Di sekolah barunya, Sherina cepat sekali mendapat teman baru. Namun, ia juga menjadi sasaran kejahilan “bandit kelas” yaitu Sadam bersama dua temannya Dudung dan Icang. Sherina yang pemberani mengajak teman-temannya untuk melawan mereka.

Suatu hari sekolah diliburkan. Sherina diajak oleh ayahnya menginap di rumah Pak Ardiwilaga. Mengejutkan, ternyata Sadam adalah anak dari Pak Ardiwilaga. Kemudian Sadam menantang Sherina untuk pergi ke Laboratorium Boscha dengan berjalan kaki. Dan petualangan pun dimulai. Diiringi dengan lagu dan musik, Sherina dan Sadam berjalan melewati perkebunan yang hijau, danau, dan hutan yang cukup lebat.

Sayangnya, mereka harus menghadapi komplotan penculik bernama Kertajasa dan Natasha. Tujuan Kertajasa adalah menguasai perkebunan Pak Ardiwilaga untuk dijadikan proyek real-estat. Sadam dan Sherina pun terjebak dalam petualangan yang menguji kecerdikan, ketabahan, keberanian dan kemampuan untuk bekerja sama. Berkat kecerdikan Sherina, usaha penculikan itu gagal dan Sadam berhasil diselamatkan.

Bagi anak seumuran saya saat itu, film ini sangat menginspirasi. Saya bahkan membayangkan berpetualang ke Lembang seperti Sherina. Berjalan menyusuri perkebunan, menembus lebatnya hutan, dan melihat bintang di Laboratorium Boscha. Adventure kemudian menjadi impian saya sejak saat itu. Saya tak tahu bagaimana memulainya. Tapi selalu yakin bahwa impian bisa berpetualang di alam bebas bisa menjadi kenyataan suatu hari.

Ada yang bilang bahwa “Tuhan akan memeluk orang-orang yang memiliki mimpi.” Di tahun 2011 saya mendapatkan kesempatan untuk menjelajah Jawa Timur. Saya melihat jutaan bintang dari Gunung Bromo. Di tahun 2012, impian saya berpetualang ke alam bebas terwujud lagi. Dari mendaki Gunung Gede, Pangrango, Semeru, Rinjani, Kerinci dan gunung-gunung lainnya pernah saya lakukan.

Film memang memiliki potensi untuk menginspirasi dan mempengaruhi kehidupan seseorang. Petualangan Sherina berhasil mempengaruhi saya bertahun-tahun untuk melakukan petualangan. Nilai-nilai moral juga saya dapatkan dari film ini: keberanian, kejujuran, saling memaafkan, saling menyayangi sesama makhluk hidup, menyiapkan segala sesuatu sebelum bepergian, dan harus memiliki insting yang tajam. Semua itu bermanfaat bagi saya ketika menjalani hidup, khususnya berpetualang.