Ingin Belanja Tapi Harus Di Rumah Aja? Mapemall Solusinya!

Featured

Hari Raya Idul Fitri identik dengan kue dan baju baru.

Hari Raya Idul Fitri identik dengan kue dan baju baru. Foto: Fimela.com

Hari raya Idul Fitri sebentar lagi. Biasanya umat muslim di Indonesia akan menyambutnya dengan suka cita. Mereka mempersiapkan kue dan baju lebaran untuk dipakai di hari raya. Tapi tahun ini sepertinya akan berbeda. Dunia sedang dilanda wabah Corona, termasuk Indonesia. Untuk menekan penyebarannya maka pemerintah menyarankan masyarakat untuk #dirumahaja. Meskipun hidup tak lagi normal seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat masih bisa merayakannya bersama keluarga. Sehingga makan makanan khas lebaran dan memakai baju bagus tetap bisa dilakukan. Lalu bagaimana caranya ya untuk berbelanja?

Belanja online adalah pilihannya.

Aktivitas belanja  online menjadi kian marak di tengah pandemi. Wabah Corona memang telah mengubah segalanya. Termasuk cara berbelanja. Kita beruntung hidup di masa teknologi yang berkembang begitu pesat. Tak perlu ke luar rumah, kita masih bisa membeli barang hanya melalui genggaman. Tinggal buka handphone atau laptop, kita bisa membeli barang-barang yang dibutuhkan. Barang yang dibeli nantinya akan di antar langsung ke rumah.

Di balik kelebihan tersebut, belanja online juga memiliki kekurangan loh. Penyebabnya adalah karena dalam berbelanja online tidak terjadi pertemuan langsung antara penjual dan pembeli. Selain itu kita tidak bisa melihat kondisi langsung produk yang akan kita beli. Tak jarang belanja online berujung penipuan dan produk yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Tips Belanja Online di Tengah Pandemi

Agar belanja online kita menjadi nyaman dan menyenangkan, kita perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Pilih Toko Online Terpercaya

Screen Shot 2020-05-13 at 7.50.18 AM

Saat memutuskan berbelanja online cari toko online yang terpercaya. Perhatikan tampilan website dan apps, apakah terlihat profesional atau asal-asalan. Toko online yang terpercaya biasanya memiliki tampilan situs yang menarik. Domain yang dipakai biasanya menggunakan .com. Sementara toko online abal-abal, biasanya menggunakan domain gratisan seperti blogspot.com, wordpres.com, .co, .pe.hu, .ml, .tk, .esy.es, .ga dan sebagainya. Jika menemukan toko online seperti itu, Anda perlu mewaspadainya.

Toko online abal-abal biasanya juga menawarkan harga yang tidak wajar. Alasannya sedang cuci gudang sehingga harga produk yang ditawarkan jauh dari harga aslinya. Misalnya jika ada toko online yang menjual Iphone 11 hanya Rp1 juta, sudah dipastikan toko online tersebut abal-abal.

  1. Toko Online Menyediakan Informasi Lengkap

Screen Shot 2020-05-13 at 7.51.46 AM

Toko online yang kredibel, biasanya akan menyediakan informasi lengkap. Dari informasi perusahaan, siapa yang mengelola hingga informasi produk dan penjualnya. Alamatnya juga jelas dan bisa dilacak. Terdapat nomor telepon atau email yang dapat dihubungi. Jika informasi – informasi tersebut tidak tersedia, maka jangan berbelanja di toko tersebut. Cari toko online yang memiliki kelengkapan informasi.

Toko online terpercaya pasti akan menyediakan kebijakan situs, berbelanja, dan pengembalian barang. Baca dengan teliti dan seksama. Jika ada hal-hal yang justru akan merugikan Anda segera beralih ke toko yang lain.

Jangan lupa untuk membaca kebijakan pengembalian barang. Kelemahan belanja online tidak bisa melihat barang secara fisik, risiko adanya kerusakan atau barang cacat selalu ada. Pastikan ada garansi dan Anda bisa menukarnya jika barang yang Anda beli tidak sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Cek Keamanan Situs Web/Apps

Screen Shot 2020-05-13 at 7.45.03 AM

Sementara itu jika gembok berwarna kuning, artinya situs tidak aman karena toko online tidak menggunakan standar-standar yang direkomendasikan. Tentunya jangan pernah sekali-kali mengakses situs apabila gembok berwarna merah. Gembok dengan tanda silang berwarna merah berarti situs tersebut tidak aman karena penyedia layanan tidak menggunakan sertifikat yang valid.

  1. Riset di Google

Screen Shot 2020-05-13 at 7.53.42 AM

Sebelum memutuskan untuk membeli barang di suatu toko online lakukan riset terlebih dahulu. Misalnya pengalaman belanja di Toko A atau kasus penipuan belanja di Toko A. Ada banyak orang yang menuliskan pengalaman berbelanja. Kaskus adalah salah satu platform yang berisi cerita orang-orang dalam berbelanja di suatu toko online. Jika pernah ada kasus penipuan, Anda perlu mewaspadai, terlebih jika kasus penipuannya banyak.

  1. Pastikan Produk yang Dijual Berkualitas

Screen Shot 2020-05-13 at 7.56.07 AM

Setelah memastikan bahwa toko online ini aman dan terpercaya, cek apakah produk yang dijual berkualitas atau tidak. Baca informasi produk dan review pembeli di kolom komentar. Jika komentarnya bagus dan mendapat penilaian memuaskan, silahkan untuk melanjutkan membeli barang di toko tersebut.

  1. Melayani 24 Jam

Screen Shot 2020-05-13 at 8.00.14 AM

Cari toko online yang bisa melayani 24 jam. Jika berbelanja online dengan waktu unlimitted akan memudahkan Anda ketika bertransaksi. Jika ada keluhan seperti mengalami kesulitan saat membayar, ada usaha penipuan dari oknum atau barang yang tidak sesuai, Anda bisa melaporkannya kepada custumer service dengan segera. Toko online yang baik akan memberikan pelayanan yang super cepat sehingga pembelinya tidak perlu menunggu untuk mendapatkan kepastian.

  1. Fitur Belanja yang Friendly

Screen Shot 2020-05-13 at 8.01.39 AM

Kini toko online saling berlomba untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggannya dengan menyediakan fitur-fitur belanja. Pilih toko online dengan fitur belanja online yang friendly. Fitur belanja yang friendly akan memudahkan Anda dalam melakukan belanja online tanpa hambatan.

  1. Memberikan Reward kepada Pembeli

Screen Shot 2020-05-13 at 8.03.17 AM

Memutuskan berbelanja di toko online yang memberikan penawaran khusus akan sangat menguntungkan kita. Hidup di tengah pandemi yang tidak pasti seperti sekarang ini, perlu sekali untuk berhemat dalam berbelanja. Biasanya toko online akan memasang info penawaran khusus di web banner mereka. Kunjungi banyak toko online dan bandingkan, toko online mana yang memberikan keuntungan lebih besar untuk Anda, seperti diskon, cash back maupun poin yang bisa ditukarkan dengan gift voucher.

Mapemall, Alternatif Belanja Online di Tengah Pandemi

Meski #dirumahaja kita tetap bisa memenuhi kebutuhan dengan cara online shopping/belanja online. Ada banyak toko online yang bisa menjadi pilihan karena selain aman, terpercaya, mereka juga berlomba-lomba memberikan penawaran yang menarik. Salah satunya adalah Mapemall.

Mapemall adalan online yang menyediakan produk-produk internasional dan berkualitas.

Mapemall adalan online yang menyediakan produk-produk internasional dan berkualitas.

Mapemall sendiri merupakan toko online pertama dengan kategori fashion dan lifestyle yang menyediakan brand original di Indonesia yang menawarkan lebih dari 150 merek internasional. Ada banyak kategori di sana, seperti fashion untuk pria, wanita, dan anak-anak. Tak hanya terbatas pada fashion tapi Mapemall juga menyediakan produk kecantikan, olahraga, rumah dan tempat tinggal, mainan, perjalanan, alat tulis, elektronik dan gadget.

Jika dibandingkan dengan toko online yang lain, menurut saya Mapemall jauh lebih unggul dibandingkan yang lain. Mapemall memenuhi standar toko online yang bisa menjadi pilihan berbelanja online seperti yang telah saya paparkan di atas.

Mapemall memakai teknologi O20 (online ke offline) yang memudahkan konsumen untuk mengakses berbagai merek yang dipilih dengan fitur-fitur canggih dan mudah. Misalnya fitur click and collect untuk mengambil barang-barang yang dibeli langsung di tempat yang tersedia. Kemudian ada toko offline dan fitur “Milla” sebagai asisten pribadi yang membantu memberikan rekomendasi tentang ukuran dan produk yang tepat sehingga sesuai dengan karakteristik pembeli. Jadi kita tak perlu khawatir saat berbelanja baju, karena jika kita menggunakan fitur tersebut, pakaian yang kita beli ukurannya akan sesuai dengan tubuh kita.

Serunya lagi, kita bisa berbelanja kapan saja dan di mana saja. Mapemall dapat diakses selama 24 jam, bisa lewat website mapemall.com atau apps online IOS dan Android. Berbagai pilihan pembayaran juga tersedia, layanan pengirimannya ke semua kota dan jika ingin menukar barang bisa dilakukan dengan mudah karena respon customer service yang super cepat. Mapemall menjadi aplikasi belanja online yang bisa ambil langsung, home delivery dan pick up in store.

Untitled

Mapemall tersedia juga dalam bentuk mobile apss IOS dan Android.

Maka bayangkan kita bisa berbelanja kebutuhan fashion dan lifestyle sebatas genggaman namun cepat, mudah, aman, dan merk yang terjamin kualitasnya. Pokoknya di Mapemall, belanja online barang original.

Menyambut hari raya Idul Fitri kali ini, Mapemall menghadirkan beragam program menarik seperti Ramadan dan Idul Fitri Deals mulai 24 April hingga 24 Mei 2020 yaitu diskon up to 70% off dan Cashback 40% off, Flash Sale, Midnight Sale, Buy 1 Get 1 dan beragam promo menarik lainnya dari berbagai brand internasional.

Jika berbelanja di Mapemall, kita akan memperoleh poin. Poin tersebut dapat dikumpulkan dan kita tukarkan dengan hadiah. Bagi pemegang kartu anggota MAPCLUB, belanja online authentic brand di Mapemall akan mendapat keuntungan Super Double Bonus, artinya poin yang ditukarkan tersebut bernilai dua kali lipatnya. Poin dapat ditukarkan dengan Gift Voucher atau voucher belanja yang berlaku hingga akhir Juni 2020.

Mapemall selalu memberikan informasi terbaru tentang fashion dan lifestyle setiap harinya melalui media sosial. Follow saja Facebook, Twitter dan Instagramnya: @Mapemall_com dan @Mapemall_shop.

Mapemall menjadi rekomendasi belanja online karena easy shopping 2020. Di tengah wabah Corona tetap #MapYourStyle dan #AtHomeWithUs bersama Mapemall.

Kena Tipu “Kirimin Saya Pulsa Dulu”

Zaman sekarang, penipu semakin berani melancarkan aksinya. Enggak tanggung-tanggung, di Grup WhatsApp. Dan kurang ajarnya Grup ia kunci saat (pura-pura) minta tolong.

Kejadiannya kemarin malam. Saat tiba-tiba seorang teman, sebut saja Alex minta tolong saya untuk mengirimkan nomor salah seorang mentor kami. Tapi saya tak simpan. Maka saya berinisiatif menanyakannya di grup. Saat itu grup dikunci, jadi saya tak bisa kirim pesan. Saya baca ada teman, sebut saja Milla, dia bertanya adakah penjual pulsa di sini?

Saat itu saya sedang di kamar seorang teman, sebut saja Lita. Ia sudah sembilan bulan ini menganggur. Bukan karena terdampak pandemi tapi dia resign dari pekerjaanya lantaran sudah tak nyaman. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia berjualan baju dan kue. Tapi penghasilannya tak bisa menutupi biaya hidupnya sehari-hari. Dia sempat bilang ke saya, “Saya hampir menyerah. Sepertinya saya harus pulang kampung.” Apesnya, saat dia mengisi pulsa dengan m-banking, dia salah ketik nominal. Harusnya Rp100 ribu malah Rp 1 juta. Dia bertanya pada saya, solusinya apa ya? “Coba jual ke temen-temen mbak. Siapa tahu mereka butuh.” Tapi sudah seminggu tak ada satupun temannya yang membeli pulsa padanya. Saya pun iba. Hati saya tergerak untuk membantu.

Saat membaca pesan Milla, saya pun langsung menghubunginya via chat pribadi. “Mbak butuh pulsa apa dan berapa?” Telkomsel dan 200 ribu, katanya. Saya langsung menyampaikan pada teman. Apalagi saya kenal Milla orang yang baik dan cukup mapan. Tentu saya percaya, tanpa memintanya mengirimkan uangnya dulu. Pikiran positifnya saya lagi, mungkin Milla sedang butuh pulsa, tapi ia ada di tempat yang tak terjangkau ATM, counter dan internet sedang tidak stabil, sehingga hanya bisa kirim WhatsApp tapi tidak membeli pulsa di e-banking.

Setelah Lita berhasil mengirimkan pulsa Rp200 ribu, saya cek grup. Salah seorang anggota grup mengeluarkan no Lita. Saya curiga. Ada apa ini? Ia pun menulis pesan, “Maaf saya remove no Milla, karena no dia sedang di-hack.

Mengetahui itu saya cukup tenang menghadapinya. Tapi saya tak enak hati dengan Lita. Dia sedang kesulitan ekonomi. Saya bilang ke Lita, nanti saya ganti uangmu. Meski dalam hati yang paling dalam, ini sulit, karena saya pun sedang ada masalah keuangan. “Ah sudahlah mungkin ini saatnya bersedekah.”

Beberapa menit kemudian, Grup WhatsApp mulai ramai. Penipu rupanya menghubungi hampir semua anggota. Beruntungnya mereka semua menaruh curiga. Ada juga yang tidak tapi keburu tahu info jika no Milla sedang di-hack. Saya sendiri mendapat pesan lagi dari si penipu, jika ia meminta saya mengirimkan pulsa lagi. Rp300 ribu. “Nanti saya akan transfer Rp600 ribu,” katanya.

Saya ingin sekali menjebaknya. Ah .. tapi saya tak punya kemampuan itu. Saya tak menggubrisnya sama sekali.

Beberapa anggota menertawai saya. Harusnya lebih pinter, karena tidak mungkin seorang Milla minta-minta kirimin pulsa. Mereka seperti tidak ada empati. Kalau saya tahu lebih awal, saya pasti takkan mengirimkan pulsa begitu saja pada penipu. Niat saya baik, membantu Lita yang sedang kesulitan keuangan dan membantu Milla (palsu) yang sedang butuh pulsa. Hanya itu.

Di saat hampir semua orang mengatakan saya bodoh dan tidak hati-hati, Alex tidak demikian. Dia justru berkata hal-hal positif. “Menurutku … kamu memang baik saja, Yus. Bukan soal bodoh atau pintar,” ujar Alex saat saya menceritakan masalah itu.

Begitupun Lita, “Tuhan tahu segalanya. Meski banyak orang yang tak merasakan empati dan niat baik Mbak, saya yakin Tuhan merasakan itu. Percayalah Mbak, Tuhan akan terketuk untuk membantu.”

Jam 11 malam, Milla menghubungi saya minta no rekening. Ia berjanji akan mengganti uang Rp200 ribu itu. Ia tidak menyalahkan saya sama sekali hanya saja memperingatkan untuk lebih hati-hati. Pagi tadi Milla sudah mentransfer uang itu. Sejujurnya saya tak enak hati, saya yang ceroboh tapi Milla yang harus menanggungnya. “Suatu hari kalau keuangan saya membaik saya pasti akan mengganti uang Milla”, janji saya.

Kejadian ini tentu jadi pelajaran buat saya. Hidup semakin banyak menawarkan pilihan-pilihan sulit. Saat hendak berbuat baik, tapi salah. Tak berbuat baik pun juga salah. “Kebenaran hanya milik langit dan dunia hanyalah palsu dan palsu,” ujar Gie.

Saya juga tak tahu harus melakukan apa, jika suatu hari saya bernasib sama dengan Milla. Hacker mengkloning no WhatsApp saya dan mengeruk pundi-pundi uang dengan memanfaatkan situasi. Tanpa saya sadari, ia sudah menghubungi semua no kontak yang ada di hape saya untuk meminjam uang. Lalu tiba-tiba banyak orang yang menagih utang, sementara saya tak pernah berhutang sama sekali. Atau bagaimana jika suatu hari ada teman-teman yang membutuhkan pertolongan, karena takut kena tipu, dia tidak mendapatkan pertolongan sama sekali.

Lewat cerita ini, saya ingin menyampaikan kepada teman-teman, jika suatu hari saya menghubungi teman-teman via WhatsApp dan media sosial lainnya meminjam uang, coba cross chek dulu. Dengan menelpon atau bertanya hal-hal yang jarang diketahui orang banyak. Begitupun yang harus teman-teman lakukan ke orang lain.

Jujur, saya jarang meminta bantuan kepada orang lain, khususnya menyangkut persoalan uang. Bagi saya meminjam uang kepada orang lain berisiko. Kita setiap hari dikejar oleh kematian. Bisa saja beberapa menit setelah saya meminjam uang itu tapi Tuhan mengambil nyawa saya. Saya meninggalkan hutang, lalu siapa yang akan membayar? Untuk itu, saya tak pernah meminjam uang lagi ke orang lain, selain keluarga saya sendiri.

Covid-19 Vs Imunitas

Dalam peperangan melawan Covid-19, satu-satunya benteng pertahanan manusia adalah imunitas.

SETIDAKNYA itu yang dapat saya simpulkan akhir-akhir ini.  Bulan lalu, saya mendapat undangan untuk membantu Dinas Kesehatan Jakarta melakukan contact tracing pasien positif Covid-19. Contact tracing adalah proses yang dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang memiliki kontak erat dengan orang yang sudah positif tertular Covid-19, beserta rincian kegiatan dan tempat apa saja yang sudah mereka kunjungi. Aktivitas ini penting dilakukan karena proses penularan Covid-19 yang sangat cepat. Biasanya dari 1 orang yang positif tertular Covid-19, ada 30-36 orang di sekitarnya yang berisiko tinggi untuk tertular. Secara teori perlu sekitar 3.300 orang untuk melakukan proses tersebut dan setiap kecamatan memerlukan waktu sekitar 750 jam untuk menyelesaikan contact tracing. Maka Dinkes Jakarta tak bisa melakukannya sendiri. Saya pun bersama puluhan alumni Indonesia Mengajar terpanggil turun tangan dengan sukarela.

Ada tiga kelompok kerja (pokja) yang terbentuk. Pokja volunteers engagement, interviewer, dan manajemen data. Saya tertarik dengan manajemen data. Selain karena berlatar belakang pendidikan Matematika, saya juga senang menulis. Pikir saya, dari data yang diperoleh akan diolah juga dalam bentuk tulisan, ehehehe, ternyata saya salah.

Gerak Berangkat – nama grup relawan ini – terbilang cepat. Beberapa hari setelah memilih pokja-pokja yang tersedia, kami melakukan rapat virtual dengan perwakilan Dinkes, puskesmas-puskesmas, dan TGUPP (Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan) Pemrov DKI. Besoknya, saya sudah membaca hasil pelacakannya. Ternyata mereka yang terinfeksi sudah mengikuti protokol kesehatan, tidak tahu pasti tertular di mana, bahkan tak semua anggota keluarganya positif. Padahal satu rumah.

Di hari yang bersamaan, rekan kerja saya mengirimkan pesan. “Keponakanku di Kalimantan positif Covid. Kasihan padahal dia sendirian.” Saya meresponnya dengan begini, “Layaknya flu Bu, kita semua punya peluang terpapar. Siapa yang kuat (imun), dia yang bertahan.”

Dan benar saja. Pada Rabu, 30 September 2020, Danone Indonesia menggelar Bicara Gizi. Temanya, “Biasakan Anak Terapkan Gizi Seimbang selama di Rumah Saja.” Corporate Communication Director Danone Indonesia Arief Mujahidin mengungkapkan meskipun vaksin sudah ada, kita tidak boleh percaya diri. Pandemi ini masih panjang. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengingatkan masyarakat dunia untuk meningkatkan imunitas.

Mengutip Alodokter.com, imunitas – sering juga disebut kekebalan tubuh – merupakan pertahanan tubuh menghadapi organisme dan kuman-kuman berbahaya. 

Spesialis Gizi Klinis dr. Juwalita Surapsari, M. Gizi, SpGK mengatakan salah satu aspek yang bisa menunjang imun adalah bila nutrisi kita tercukupi. Sehingga itu menjadi senjata satu-satunya untuk menangkal infeksi dari luar.

Corporate Communication Director Danone Indonesia Arief Mujahidin, Spesialis Gizi Klinis dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Psikolog Anak dari Tiga Generasi Putu Andini, M.Psi, dan ibu dengan gaya hidup sehat Soraya Larasati berfoto bersama. Sumber foto: Danone Indonesia

Bicara kebutuhan nutrisi, karena sekarang di rumah saja, apa yang diasup keluarga sumbernya dari ibu. Ibu memiliki peranan yang kuat di kondisi saat ini. Karena ibu perlu menyiapkan nutrisi untuk anak-anak dan orang lain di rumah. Kebutuhan nutrisi anak-anak dan orang dewasa pun berbeda. Bila pada orang dewasa, nutrisi dibutuhkan untuk metabolismenya dan aktivitas fisik, kalau pada anak-anak tidak hanya itu, tapi juga tumbuh kembang. Maka, anak-anak perlu mendapat perhatian lebih.

Pada situasi saat ini, para ibu yang di rumah saja harus berupaya ekstra dengan kondisi sebelumnya. Mereka harus paham bahwa makanan yang sehat adalah makanan yang disiapkan sendiri di rumah. Selain lebih bersih, makanan yang disiapkan sendiri lebih bernutrisi dibandingkan dengan makanan yang kita beli dari luar, yang tinggi kalori tapi belum tentu tinggi nutrisinya. Di awal acara, Arief sempat bertanya seperti ini, “Are you eating nutrition or food?” Pertanyaan yang menohok sekaligus menyadarkan kita betapa pentingnya konsumsi makanan yang kaya nutrisi. Sebab nutrisilah yang dibutuhkan oleh tubuh kita.  Bukan sekadar makanan yang menjadi pemuas lidah dan membuat perut kita kenyang saja.

Juwalita menyarankan untuk mengikuti pedoman gizi seimbang. Prinsipnya ada empat yaitu keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi. Pedoman gizi seimbang bisa dijalankan untuk kita makan sehari-hari.

“Cara menangkal infeksi adalah apabila kita mematuhi gizi seimbang,” ungkap Juwalita, “maksud dari gizi seimbang adalah makanan mengandung zat gizi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh”.

Gizi seimbang diterjemahkan dalam tumpeng gizi seimbang. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuat panduan tersebut untuk menuntun orang tua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Tumpeng gizi seimbang tak hanya berisi panduan makan sehat, tetapi panduan gaya hidup sehat secara keseluruhan, termasuk aktivitas fisik dan kebersihan diri.

Tumpeng gizi seimbang. Sumber foto: linisehat.com

Lapisan tumpeng bawah menganjurkan untuk konsumsi makanan pokok yang beraneka ragam. Bisa beras, tepung, sagu, jagung, kentang dan umbi-umbian. Lapisan selanjutnya mencukupi kebutuhan vitamin dengan konsumsi sayur-sayuran dan aneka buah-buahan. Lapisan ketiga yakni memenuhi kebutuhan protein nabati maupun hewani. Di bagian paling atas, batasi konsumsi gula, garam dan minyak. Di luar lapisan ada perilaku hidup bersih, aktivitas fisik seperti berolahraga, memantau berat badan, dan minum air putih 8 gelas per hari.

Untuk mempermudah implementasi gizi seimbang sehari-hari, Kemenkes mengeluarkan satu pedoman lagi, “Isi Piringku”. Untuk sajian sekali makan, dalam piring makanan berisi 2/3 makanan pokok, 2/3 sayuran, 1/3 lauk pauk, dan 1/3 buah-buahan.

Isi piringku. Sumber foto: linisehat.com

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa 95% hormon serotonin diproduksi di usus. Hal ini menandakan bahwa apa yang kita makan dan kesehatan saluran cerna dapat memengaruhi kesehatan psikis. Sehingga, selain dukungan gizi seimbang, kondisi psikis ibu, anak dan anggota keluarga lainnya harus didukung.

Tantangan Ibu Selama Pandemi dan Solusinya

SAYANGNYA dengan semua aktivitas yang dilakukan di rumah membuat anak bosan dengan menu makanan  yang disajikan. Kenyataan itu menjadi tantangan bagi para ibu. Sehingga variasi jenis nutrisi yang mengikuti pola makan bergizi seimbang perlu diterapkan agar dapat memengaruhi status gizi anak secara positif.

Tantangan lain yang tak kalah beratnya di masa pandemi ini adalah stres berkepanjangan. Penyebabnya: kebosanan; pilihan yang terbatas; tidak bertemu teman/saudara; kegiatan yang menoton; masih merasa beradaptasi pada perubahan rutinitas sebelum dan setelah pandemi.

“Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik berdampak buruk pada kesehatan mental. Anak-anak sebagai individu yang kemampuan mengelola perasaanya masih berkembang, membutuhkan bantuan dalam mengelola stres,” papar Putu Andini, M.Psi, Psikolog Anak dari Tiga Generasi.

Lantas, apa sih solusi dari kedua tantangan di atas?

1. Atur Pola Makan

Pola makan sejak dini memengaruhi kebiasan anak ketika dewasa. Atur jadwal makan anak, misalnya makan pagi jam 7.00, makan siang jam 12.00, dan makan malam jam 19.00. Beri selinganan makanan yang nutrisinya baik seperti buah-buahan, kacang-kacangan, agar-agar, dan susu, di sela-sela waktu makan.

2. Kreasikan Sajian Makanan

Manfaat protein nabati sangat baik bagi perkembangan anak, bisa dikreasikan menjadi sajian makanan yang unik. Misalnya nugget tempe, rolade tahu yang dicampur dengan daging, bubur kacang hijau atau kacang hijau yang dibuat es mambo, sup kacang merah dan susu pertumbuhan soya. Dengan begitu anak akan senang namun nutrisinya tetap terpenuhi. Para Ibu bisa menerapkan pada bahan makanan lain.

3. Sesuaikan porsi makan anak

Momen makan sebenarnya menjadi momen untuk anak belajar. Aktivitas makan melatih kemampuan motorik anak, kemampuan tekstur dan rasa. Ibu perlu mengetahui sinyal lapar dan kenyang anak juga kapan anak harus berhenti makan. Dari pengalaman tersebut, Ibu akan tahu seberapa besar porsi makan pada anak. Sajikan makanan sesuai porsi mereka.

4. Kelola stres dengan hal positif

Seringkali anak tidak menyadari jika dirinya sedang stres. “Aku tuh maunya marah-marah terus, tapi enggak tahu kenapa.” Sehingga anak perlu diberi pemahaman tentang stres dan cara mengelolanya dengan hal-hal positif.

Ibu bisa mencoba keterampilan dan pengalaman baru dengan interaksi yang menyenangkan bersama anggota keluarga. Melibatkan anak dalam menyiapkan menu gizi seimbang sesuai usia dan kemampuan anak bisa menjadi alternatif kegiatan menyenangkan dan edukatif.

Putu mencontohkan untuk anak usia yang lebih kecil, bisa diajarkan mencuci buah dan sayur, memilah jenis makanan, menghitung jumlah makanan atau alat makan serta mengeksplorasi nama, warna dan aroma dari berbagai jenis makanan. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa dilibatkan untuk memotong, mencampur adonan, mengenalkan dan mencampur bahan, menentukan porsi makan dan menata peratan makan di meja.

5. Tingkatkan interaksi saat makan

Terkadang meskipun semua orang ada di rumah belum tentu ada waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Makan bersama keluarga dengan interaksi yang menyenangkan dan minim distraksi sangat disarankan untuk meningkatkan bonding antar anggota keluarga. 

6. Coba cara baru saat interaksi dengan anak

Kalau biasanya kita menggunakan kalimat seperti saat makan “makanannya enak atau enggak enak?, makananya bagus atau enggak bagus?, cobain deh makanan ini karena bagus buat kamu, makannya jangan banyak-banyak atau jangan sedikit!”. Ganti kalimatnya dengan seperti ini “coba lihat warna/bentuk makanannya, coba kamu cium deh aromanya bagaimana, coba pegang tekstur makanannya, waktu dikunyah rasa/bunyinya seperti apa ya?”.

Narasumber dan peserta berfoto bersama. Sumber foto: pribadi

Dengan memahami pemenuhan nutrisi dengan gizi seimbang, kondisi psikologi keluarga serta solusinya, semoga akan meningkatkan imunitas. Sehingga kita bisa menghadapi pandemi Covid-19 dengan tenang dan menjalani kebiasaan baru meski pandemi sudah usai.

Salam sehat!

How to Involve Children in Housework

When we as parents want to train children to begin to be independent, one of the most effective ways which can be used is to invite them to help us do work at home. Initially indeed, this is not easy, but the following trick is worth a try.

Make housework become an exciting activity

Source: melbournechildpsychology.com.au

Photo source: melbournechildpsychology.com.au

Making daily activities as an exciting activities will make children interested in doing it because they will not view the activity as a burden. If parents often complain when doing housework and consider the work as a burden, then the negative perception will also be captured by children so they will also think that housework is a burden which they must avoid.

Start from simple things

children-chores

Photo source: bellybelly.com.au

When parents do housework, there are many things which can be done by children because basically children love to do what their parents do, especially if children see their parents doing the work happily so that children see it as a fun thing to do. Start with a simple job and adjust the work to the child’s abilities. For example, children who have not been able to sweep because their hands are not strong to hold the broom and to swing it correctly can start helping you by getting a broom. If children are not able to wash, they can help get soap, sponge or other washing equipment.

Give praise and appreciation 

kiddoingchores_happygirl_momandgirl_choresforkis_istock-957387872-e1567094544345

Photo source: redtri.com

When children are willing to help do housework, don’t forget to give praise and appreciation to their after they do the work. Althought maybe the work is not perfect and there are still many shortcomings, giving praise must still be done. Praise will make children more excited in doing housework.

Do work without a schedule

schedule

Photo source: athleticlab.com

When you want to start inviting children to do homework, do it incidentally without planning. Therefore, children will feel housework is fun thing and not a burden which must be done. After children get older, we can give them a schedule to do housework.

Many parents don’t tell their children to do housework because at home there is already a housemaid. Some other parents think that their children should focus on their schoolwork without the need to do housework because academic achievement is very important to them. However, it should be remembered that there are many things which can be learned by children from doing houseworks. For example, children can learn about responsibility and discipline. These two things are very important in the formation of children’s character. So from now on, don’t spoil a children.

Waspada! Riwayat Alergi Pada Keluarga

Apakah kamu memiliki alergi terhadap sesuatu? Misalnya makanan atau debu? Kalau tidak apakah keluargamu ada yang menderita alergi? Jika iya, kamu perlu waspada. Menurut penelitian anak dengan alergi cenderung memiliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia. Bahkan bisa diturunkan ke generasi berikutnya.

“Begitu juga dengan anak yang dilahirkan dari keluarga yang memiliki riwayat alergi berpotensi besar mengalami alergi sebesar 40 – 60%. Tapi kalau kedua orang tua ini memiliki manifestasi sama, maka potensinya 60 – 80 % terjadi pada anaknya,” ungkap Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak pada Bicara Gizi Danone Indonesia dengan topik “Menekan Risiko Alergi si Kecil dengan Deteksi Alergi dan Asupan Nutrisi yang Tepat Sejak Dini”, Kamis, 25 Juni 2020.

WhatsApp Image 2020-06-25 at 17.23.42

Bicara Gizi tersebut dalam rangka menyambut Pekan Alergi Dunia (World Allergy Week) guna memperkuat edukasi mengenai pentingnya screening risiko alergi dan manajemen nutrisi alergi yang tepat untuk pencegahan alergi pada anak.

Alergi itu apa sih?

Alergi merupakan respon sistem imun yang tidak normal atau mengenali bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.

WhatsApp Image 2020-06-25 at 17.23.41

Faktor penyebab alergi ada banyak. Pertama, riwayat alergi pada keluarga. Anak dengan alergi cenderung memliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia. Bahkan bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Risiko alergi berdasarkan turunan riwayat keluarga ini memiliki prevalensi yang berbeda-beda.

Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi, maka anak Anda memiliki potensi risiko mengalami alergi yang sama dengan presentasi 40 – 60 %. Tapi kalau kedua orang tua ini memiliki manifestasi sama, maka potensinya 60 – 80 % terjadi pada anaknya. Jika hanya salah satu orang tua saja yang memiliki alergi, maka presentasi kemungkinan anak mengalami alergi turun menjadi 20-40%. Selain itu, jika orangtua memiliki riwayat alergi akan sesuatu, si kecil juga memiliki kemungkinan 25-30 % mengembangkan alergi yang sama. Sedangkan, jika kedua orang tua tidak memiliki alergi sama sekali, maka risiko alergi pada anak hanya 5-15 %.

Kasus alergi yang penyebabnya adalah faktor keturunan dialami oleh Chacha Thaib, influencer media sosial yang memiliki anak dengan alergi. “Isu alergi merupakan hal yang harus menjadi perhatian, khususnya bagi orang tua yang memiliki risiko menurunkan kondisi alerginya pada anak. Saya mempunyai riwayat alergi susu sapi dan debu, sehingga menurun ke anak saya yang alerginya beragam, salah satunya alergi susu sapi,” ujarnya.

Kedua, kelahiran caesar. Persalinan caesar dapat meningkatkan risiko alergi pada anak. Pada saat lahir, bayi masih dalam fase belum begitu optimal dan stabil seperti orang dewasa. Bayi masih membutuhkan bakteri baik untuk metabolisme tubuh. Tapi kelahiran caesar menyebabkan penundaan perkembangan bakteri baik di dalam usus bayi. Sehingga, akan terjadi perubahan perkembangan sistem daya tahan tubuh anak dan imunitasnya jadi terganggu. Selain itu juga meningkatkan risiko penyakit alergi.

Ketiga, paparan asap rokok dan polusi udara. Sudah menjadi rahasia umum, jika paparan asap rokok dan polusi udara tidak baik bagi kesehatan manusia. Entah itu bagi orang dewasa, manula, remaja bahkan anak kecil. Dan asap rokok serta polusi udara bisa memicu timbulnya alergi. Sebab, asap rokok dan polusi udara bersifat karsinogen, kaya nikotin dan karbon monooksida.

Penyebab lainnya adalah kurangnya paparan sinar matahari, kolonisasi flora abnormal usus, pengenalan makanan pada secara dini sebelum usia 3-4 bulan, susu formula, diet rendah n-3 PUFA, antioksidan dan serat, pengenalan makanan padat yang tertunda, defisiensi vitamin D dan serangga. “Penyebab alergi terbesar di Indonesia adalah tungau,” kata Prof. Budi.

Dampak alergi apa sih?

Dalam dua dekade terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya peningkatan angka kejadian alergi pada anak di Indonesia, bahkan alergi susu sapi pada dermatitis atopik ditemukan hingga 60%. Alergi yang terjadi pada awal kehidupan juga akan meningkatkan risiko manifestasi alergi lain di masa depan, atau dikenal dengan Allergic March.

Adanya disfungsi terhadap sistem kekebalan tubuh, baik itu dari faktor genetik maupun lingkungan, dapat menyebabkan reaksi alergi dan berbagai efek yang memiliki pengaruh negatif jangka panjang, tidak hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua. Selain dampak kesehatan, anak dan orang tua juga dapat menderita dampak psikologis, serta konsekuensi sosial dan ekonomi bagi keluarganya.

WhatsApp Image 2020-06-25 at 17.23.40

Penelitian menyebutkan bahwa anak yang alergi dapat mengalami gangguan seperti gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas. Sedangkan bagi orang tua, munculnya gejala alergi pada anaknya dapat menimbulkan kecemasan berlebih atau lebih parahnya sampai perasaan depresi.

“Secara sosial, anak dan orang tua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak dapat terhambat,” kata Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari TigaGenerasi.

Untuk itu, orang tua harus menanamkan semangat positif dan optimis bahwa pencegahan alergi dapat dilakukan sejak dini. Jika reaksi alergi terjadi, sebaiknya orang tua jangan panik. Usahakan agar si kecil tetap tenang, jangan berasumsi tentang penyebab alergi si kecil, lakukan validasi langsung dengan ahlinya.

Chaca bahkan merasakan selain dampak kesehatan dan beban ekonomi yang besar, ia pun merasakan efek psikologis. Ia dan anaknya cenderung penakut dalam memilih makanan. Ia pun mengajak orang tua untuk lebih menyadari pentingnya pencegahan alergi sejak dini untuk menghindari dampak negatif di kemudian hari.

Lantas apa yang harus dilakukan?

Menurut Prof. Budi ada beberapa tindakan penanganan yang bisa dilakukan antara lain:

WhatsApp Image 2020-06-25 at 17.23.41 (1)

1. Deteksi dan Pencegahan Dini

Dengan mendeteksi dan mencegah sejak dini, dengan menelusuri riwayat alergi keluarga serta pemberian nutrisi yang tepat dapat mendukung sistem imun yang lebih baik.

Melihat dampak jangka panjang alergi yang harus dihadapi orang tua dan si Kecil, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia berkomitmen untuk menawarkan inovasi terkait deteksi risiko alergi maupun manajemen nutrisi. Danone SN Indonesia menghadirkan Allergy Risk Screener by Nutriclub untuk mempermudah orang tua mengetahui besar risiko alergi anak berdasarkan riwayat alergi keluarga. “Kami juga menyediakan inovasi nutrisi dengan kandungan sinbotik yang sudah dipatenkan,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia.

Screen Shot 2020-07-01 at 1.03.46 AM

Allergy Risk Screener by Nutriclub yang diluncurkan sejak Maret 2020 ini telah diakses sebanyak lebih dari 20.000 kali oleh orang tua di Indonesia. Tools digital ini dapat membantu orang tua maupun tenaga ahli dalam mendeteksi risiko alergi si Kecil hingga membantu pemberian edukasi mengenai pencegahan alergi sejak dini dan membantu mempersingkat waktu konsultasi. Allergy Risk Screener by Nutriclub dapat diakses pada: bit.ly/allergyriskscreener. 

2. Konsumsi Makanan Apa Saja

Selama kehamilan, Ibu tidak perlu melakukan pantangan terhadap makanan tertentu. Konsumsi makanan apa saja, asal itu baik bagi kesehatan tubuh dan janin. Makanlah dengan gizi seimbang. Perbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.

3. Asi Esklusif

ASI (Air Susu Ibu) dan nutrisi lengkap dan seimbang akan mendukung perkembangan system imun anak. Nutrisi kombinasi prebiotik dan probiotik (SINBIOTIK) merupakan salah satu nutrisi yang dapat mendukung sistem imun anak dalam menurunkan risiko alergi. Dalam kemampuannya menurunkan alergi, sinbiotik lebih efektif dibandingkan pemberian tunggal prebiotik atau probiotik. Efektivitas dari satu kombinasi sinbiotik tidak bisa diekstrapolasikan kepada kombinasi sinbiotik lainnya. Kombinasi Prebiotik seperti FOS GOS dan Probiotik seperti B.breve dengan komposisi seimbang telah teruji klinis bekerja secara sinergis mendorong keseimbangan kolonisasi Bifidobakterium sehingga mendukung sistem imun dalam menurunkan risiko alergi pada anak.

Dalam kemampuannya menurunkan alergi, sinbiotik lebih efektif dibandingkan pemberian tunggal prebiotik atau probiotik. Efektivitas dari satu kombinasi sinbiotik tidak bisa diekstrapolasikan kepada kombinasi sinbiotik lainnya. Kombinasi Prebiotik seperti FOS GOS dan Probiotik seperti B.breve dengan komposisi seimbang telah teruji klinis bekerja secara sinergis mendorong keseimbangan kolonisasi Bifidobakterium sehingga mendukung sistem imun dalam menurunkan risiko alergi si kecil.

 

 

 

 

 

Impact Berbagi Cerita Corona

Panji Masyarakat adalah media yang didirikan oleh Buya Hamka. Pernah dibredel oleh pemerintah orde lama, aktif kembali, setelahnya mati suri. Kira-kira pada Maret 2019, media ini hidup lagi dalam bentuk daring.

Suatu kehormatan bagi saya menjadi bagian dari keluarga media yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia ini.

Di tengah pandemi, Panji Masyarakat mengumpulkan cerita, bagaimana masyarakat Indonesia menghadapi wabah Corona untuk memberi semangat dan menguatkan satu sama lain. Beberapa tulisan yang berpengaruh adalah perjuangan bidan di puskesmas Depok dalam merawat pasien Covid dengan segala keterbatasan, mengunggah seorang PNS di Malang untuk menggalang donasi. APD untuk bidan-bidan itu mendarat di Depok beberapa hari setelahnya. Lalu cerita “lockdown barangay, cara Filipina menghadapi Corona” yang menjadi inspirasi Gubernur DKI Jakarta untuk menerapkan sistem yang sama di Ibukota.

Saya angkat topi bagi para Narasumber yang bersedia menceritkan kisahnya.

Hari ini kisah-kisah itu akan disiarkan secara live di Website Panjimasyarakat.com atau Youtube Panji Masyarakat.

WhatsApp Image 2020-05-15 at 17.08.36

Diam di Rumah, Patuhi Intruksi Pemerintah

Setiap hari ratusan warga Italia tewas tanpa pengantaran keluarga. Italia kota maju & indah akan arsitektur bangunanya itu kini berubah, karena keegoisan & kerasnya hati juga pikiran penghuninya sendiri.

Seolah manusia begitu bodohnya, warga negara lain juga berperilaku sama. Tak mengindahkan larangan pemerintah untuk tetap di rumah, mengabaikan virus begitu saja. Dan itu terjadi di sini: Indonesia.

Saya tinggal di Jakarta bisa menyaksikan bagaimana setiap hari warga masih beraktivitas seperti biasa. Masjid-masjid, pasar, warung makan masih ramai, meski kami sudah dikepung oleh belasan pasien positif Corona. Entah berapa banyak yang sudah terpapar dan mereka tak menyadarinya, lalu berkeliaran di jalanan. Di sini saya tinggal di sebuah kost yang bentuknya semi apartemen. Ada sekitar 30 penghuni di sini. Saya sendiri satu kamar berdua dengan seorang teman. Ia dan beberapa puluh penghuni masih pergi bekerja seperti biasa. Banyak perusahaan yang tidak mematuhi intruksi pemerintah untuk bekerja di rumah. Kondisi itu membuat saya khawatir, karena jujur saya memiliki gangguan imun sejak satu tahun ini. Keluarga dan teman-teman meditasi mencoba menenangkan kegundahan saya, “Semua sudah, sedang dan akan baik-baik saja.” Tapi tetap saja perasaan itu belum hilang.

Melihat kasus positif dan meninggal yang kian bertambah, saya membuat keputusan untuk pulang kampung. Apalagi sudah hampir satu tahun saya tidak pulang ke rumah, bertemu keluarga. Saya khawatir tidak bisa melihat mereka lagi.

Semalam sebelum pemerintah mengumumkan kasus positif corona pertamanya, saya bermimpi, Indonesia dilanda wabah corona, puncaknya puasa, dan rekan kerja saya ada yang terinfeksi. Saya sempet menceritakan ini kepada teman dan ditertawai. Satu jam kemudian,  berita 2 WNI positif corona mulai ramai di media sosial. Seminggu yang lalu, Badan Intelegen Negara (BIN) memprediksi puncak wabah corona di Indonesia terjadi pada saat ramadhan. Wakil presiden Maaruf Amin bahkan sudah melarang semua umat muslim mudik lebaran.

Kampung saya memiliki keterbatasan peralatan medis, jarak ke rumah sakit rujukan mencapai 3 jam, saya khawatir akan berdampak buruk pada keluarga. Dan saya di sini pun sendirian, dengan banyak risiko yang harus dihadapi. Virus corona itu nyata. Virus corona itu ada. Mereka menyerang manusia tanpa melihat latar belakang, jenis kelamin, ras, kebangsaan, golongan maupun status. Maka saya harus pulang, bertemu keluarga.

Saya harus melalui banyak pertimbangan untuk menyampaikannya. Keluarga menyambut baik dan memberikan beberapa opsi untuk saya pulang. Tidak boleh via udara, harus darat untuk meminimalisir risiko. Sayangnya siang itu Jakarta hujan deras, saya menunda kepulangan menjadi esok malam. Namun, pagi usai salat subuh, Ibu dan Kakak menelpon, melarang saya pulang.

Ternyata kampung saya me-lockdown-kan sendiri tanpa intruksi dari pemerintah. Padahal pelosok banget. Orang-orang dari luar nggak boleh masuk. Bagi yang memiliki anggota keluarga yang tinggal di US, Jakarta, Malang, Jogja, dan sebagainya harus tetap berdiam diri di tempatnya masing-masing. Tidak ada yang boleh pulang dan warga mematuhi itu. Saya dan Ibu, sampai menangis bebarengan ketika ibu camat melarang saya pulang, demi keselamatan bersama. Rumah-rumah sakit bahkan dibatasi pengunjungnya. Tetangga-tetangga yang terbaring sakit yang dirawat di hospital tak ada yang dijenguk, padahal kampung saya terkenal akan toleransinya. Kalau ada tetangga yang sakit, satu rw bisa ngejengukkin. Saya bahkan sering kewalahan kalau ada keluarga yang dirawat di RS. Disuruh kasih minum buat mereka yang ngejenguk.

Tapi saya lihat yang di kota, negara-negara maju, se-“ndablek” ini. Kalau kata keluarga saya di Kuala Lumpur, kasus positif di sana bertambah terus karena orang-orang bodoh dan degil, meski Sultan sudah menitah.

Semoga kita bisa belajar dari negara Italia dan patuh sama pemerintah. Nggak menyepelakan virus ini. Masa kalah sama warga di kampung, yang rata-rata pendidikannya hanya SMA.

Diam #dirumahaja, Bagaimana Nasib Pekerja Harian?

“Kekhawatiran terhadap virus ini kalah, dengan kekhawatiran saya pada anak dan istri saya tidak makan. Saya juga pengen sehat. Saya nggak ngarep banyak dari pemerintah. Saya hanya ingin selama 2 minggu ke depan. Kebutuhan pokok saya, makan, beras atau mie instan sudah cukup. Saya mau 2 minggu istirahat. Toh saya narik juga sama aja, dari tadi malem saya ngalong, saya hanya narik 8 penumpang. Penghasilannya hanya Rp60.000. Kalau ditanya cukup atau nggak? Nggak usah ditanya.” Begitu ujar salah satu ojek online (ojol) mewakili ojol lainnya.

Ada banyak gambar beredar di sosial media, soal nasib para pekerja harian. “Bagaimana nasib pekerja harian?”

Begini ….. Semua terdampak kok karena Corona, bukan hanya rakyat kecil, tapi juga menengah dan para konglomerat. Kita bisa lihat kan ya di berita-berita, dolar naik, harga saham jatuh. Beberapa industri seperti wisata itu terpukul banget. Hotel-hotel di Bali yang sebelumnya harga per malem bisa Rp7 juta diobral jadi “gratis menginap, hanya bayar administrasi”, “bayar semalam, menginap tiga malam”. Lalu anak-anak rantau nggak bisa pulang dan terancam nggak bisa ketemu keluarga di hari raya, dag-dig-dug setiap kali pemerintah mengumumkan angka positif Corona yang kian bertambah. Kondisi ini tuh nggak hanya terjadi di Indonesia, tapi dunia. Kalau susah kita nggak sendiri. Ada jutaan orang di luar sana, yang bernasib sama. Sudah bukan saatnya mengeluh, tapi turun tangan apa yang bisa kita perbuat agar Indonesia kembali pulih. Kita tentu nggak mau negara kita ini seperti Italia, Wuhan, dan Iran bukan? Yang setiap hari ada ratusan orang tewas. Corona itu nyata ada untuk memusnahkan manusia. Kalau kita masih terus egois, akan ada banyak anak-anak yatim piatu, perekonomian makin anjlok, makin banyak pengangguran, dan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya.

Percayalah …. ini takkan berlangsung lama. Jadi mohon untuk istirahat sejenak. Seraya  berdoa, semua akan baik-baik saja.

Corona Is Coming, Lockdown Indonesia Segera

Saya tidak bermaksud membuat orang panik dan terkonsentrasi dengan corona. Saya hanya ingin kita lebih aware dengan keberadaan virus ini yang penyebarannya lebih cepat dari flu biasa. Sekitar dua minggu yang lalu, kasus corona di Italia hanya tiga, tetapi sekarang sudah ribuan, bahkan pemerintah memutuskan untuk me-lockdown negaranya. Belajar dari kasus-kasus negara lain, model matematika penyebaran corona begini, “jika ada x kasus terdeteksi, maka kasus sebenarnya bisa mencapai 40 kali lipat”. Artinya kasus di Indonesia lebih banyak dari yang diketahui sekarang.

Beberapa waktu lalu, Singapura melaporkan ada enam imported case dari Indonesia, sehingga mereka menutup akses penerbangan ke Indonesia. Disusul dengan Arab Saudi, hingga ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) gagal umroh. Bahkan Australia telah mewanti-wanti warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, ada dua pasien suspect corona meninggal dunia. Satu warga Semarang yang dirawat di Rumah Sakit Kariadi, satu warga negara Singapura yang dirawat di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam, Riau. Pihak rumah sakit menyatakan kedua pasien tersebut negatif corona. Pasien suspect asal Semarang dinyatakan meninggal karena bronkopneumonia dan pasien suspect asal Singapura meninggal karena infeksi paru-paru akut. Pertanyaannya adalah virus apa yang menyebabkan bronkopneumonia dan infeksi paru-paru itu? Malam, sebelum pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertamanya, saya mempertanyakan ini ke salah seorang teman yang tenaga medis. Dia malah tersinggung dengan pertanyaan itu, saya dianggap meragukan kompetensi tenaga medis di Indonesia. “Corona berpotensi pandemi, jadi kalau WHO dan sejumlah negara menuding Indonesia tidak serius dalam menangani masalah corona itu salah,” begitu katanya. Keesokan paginya, breaking news “2 WNI Positif Corona”. Itu pun hasil dari penelusuran satu warga negara Jepang yang terkonfirmasi positif corona di Rumah Sakit Malaysia dan diketahui sebelumnya hadir dalam acara dansa di Jakarta.

Kemarin pemerintah melalui juru bicara untuk kasus corona, Achmad Yurianto mengumumkan jumlah pasien positif virus corona di Indonesia menjadi 69 kasus. Yakin 69 kasus?

Mari kita coba analisis.

Warga negara Jepang datang ke Indonesia pada 14 Februari. Dia bertemu dengan WNI yang terkena corona dalam sebuah acara dansa di Amigos Bar and Cantina, Kemang, Jakarta Selatan. Ada peserta dansa lain di sana, yang berasal dari beberapa negara. Jumlah karyawan Bar yang bertugas saat itu 30 orang. Sejak diketahui WNI yang terkontak langsung dengan warga negara Jepang itu positif corona, pemerintah melakukan pengawasan terhadap peserta dansa dan karyawan bar. Beberapa di antara mereka positif corona. Jika warga negara Jepang, menulari WNI dan baru diketahui ketika di RS Malaysia, lalu bagaimana dengan kondisi penumpang dan kru pesawat yang membawa warga negara Jepang ke Indonesia dan Malaysia? Apakah yakin tidak ada yang tertular?

Pada 28 Februari hingga 1 Maret, di Malaysia ada pertemuan “ijtimak tabligh” yang dihadiri oleh 10.000 orang dari berbagai negara, salah satunya Indonesia yang berjumlah 696 orang. Beberapa peserta tabligh ternyata carrier (pembawa) virus corona. Kini pemerintah Malaysia meminta sekitar 5000 warga Malaysia yang ikut untuk diperiksa. Di Singapura, dua orang yang ikut tabligh positif terkena corona. Dari Brunei, sudah diperiksa 10 orang positif. Sementara sampai detik ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum berencana memeriksa 696 WNI yang hadir dalam tabligh.

Sementara itu setiap hari, banyak orang dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan pengawasan yang tidak ketat. Meskipun bandara-bandara di sejumlah daerah sudah dilengkapi dengan alat pengukur suhu tubuh, saya pikir tetap akan lolos. Kenapa? Budaya masyarakat Indonesia kalau kerja ngobrol, sudah pasti mereka kebobolan, tanpa disadari.

Penyebaran virus corona ini mirip jaringan MLM (Multilevel Marketing). Siapa bawa siapa. Jika ditelusuri terus menerus, angka WNI yang terjangkit corona akan lebih banyak dari sekarang. Masyarakat Indonesia terancam terjangkit corona tanpa penanganan serius seperti yang dilakukan di beberapa negara khususnya Kota Wuhan, China.

Parahnya lagi masyarakat Indonesia kurang aware dengan wabah ini. Mereka santuy alias santai alias bodo amat. Saya yakin mereka terinfeksi corona dipikirnya flu biasa. Ada juga masyarakat Indonesia yang menganggap wabah virus corona hanyalah politik untuk mendapat keuntungan. “Halah … corona, corona itu hoax. Cuma buat politik aja. Mereka untung kitanya buntung. Kagak jualan ya nggak bisa dapet duit. Nggak makan entar,” ujar penjual warteg di samping kantor saya. Seminggu lalu, saya mendatangi kantor pusat organisasi kepemudaan di Jakarta untuk mengajak mereka bekerjasama terkait pencegahan corona. Begini jawabannya, “Kenapa sih corona? Saya lihat itu hanya flu biasa, jumlah yang meninggal juga lebih sedikit dibandingkan jumlah yang berhasil sembuh. Kenapa nggak galang donasi untuk merapi? Warga di sana juga butuh masker. Pokoknya kami santuy lah, nggak khawatir.”

Indonesia perlu lockdown?

Saya tidak pro dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Namun, langkah yang dia ambil untuk mengamankan Jakarta dari Corona itu tepat. Dia mensimulasikan 6000 penderita corona dalam sebulan, lalu merumuskan langkah-langkah yang harus diambil. Anies membentuk tim siaga corona, membuat website jumlah terkini penderita corona berikut dengan lokasi penyebarannya. Kemarin ia mengeluarkan kebijakan untuk menutup sejumlah tempat rekreasi, seperti Kebun Raya Ragunan, Pantai Onrust, Ancol, Monas, dan sejumlah museum. Selama penutupan tempat rekreasi tersebut, pemerintah DKI akan melakukan bersih-bersih dan penyemprotan menggunakan disinfektan. Anies bahkan mengintruksikan perusahaan/intansi memperkejakan karyawan di rumah. Beberapa sekolah dan kampus ditutup untuk mencegah penyebaran.

Pemerintah pusat? Kemenkes dalam hal ini cukup lambat. Kabarnya WHO sudah memberikan 10.000 kit tes kepada Indonesia, namun hanya 840 yang terpakai. Belum ada intruksi jelas mengenai langkah-langkah penanganan corona di daerah-daerah. Wajar jika kemudian Anies mengambil langkah sendiri.

Sejumlah negara di antaranya Italia, Denmark, Kuwait, Wuhan, dan Korea Selatan memberlakukan lockdown terhadap negaranya. Orang tidak diperbolehkan untuk masuk atau meninggalkan sebuah bangunan atau kawasan dengan bebas karena alasan sesuatu yang darurat. Kantor-kantor, sekolah, kampus ditutup. Jalanan lengang. Bahkan Manila dengan 52 kasus corona, menghentikan sementara lalu lintas darat, laut, udara domestik, ke dan dari ibu kota Manila. Masyarakat dikarantina, pemerintah melarang pertemuan warga dalam skala besar, penutupan sekolah selama satu bulan dan karantina komunitas tertentu di mana kasus ditemukan. Untuk itu, Indonesia menurut saya perlu melakukan lockdown untuk membendung virus corona. Minimal menerapkan social distance sejak sekarang. Melihat penyebarannya sangat cepat, tenaga medis pasti kewalahan. Apalagi jumlah tenaga medis dengan penduduk Indonesia tidak sebanding. Begitu tenaga medis kalah, maka angka mortality-nya akan meningkat. Dalam beberapa prediksi yang saya baca, jika virus corona jenis baru ini tidak tertangani sepanjang tahun, maka 3 juta penduduk Amerika akan meninggal dunia dan Eropa dalam sembilan hari akan separah Italia.

Saya harap dalam waktu dekat, pemerintah Indonesia akan mengumumkan virus corona sebagai darurat nasional, menutup akses penerbangan, lalu lintas darat dan laut ke dan dari luar negeri. Memastikan semua kebutuhan pokok, masker, dan hand sanitizer aman tersedia. Serta semua pemerintah daerah memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani semua pasien positif corona.

Gerak pemerintah pusat memang lambat, gaya menteri kesehatan bikin sajumlah orang gemas. Pemerintah DKI mengambil langkah antisipasi dicurigai karena dianggap strategi politik Anies untuk melaju di 2024. Dengan gerak corona yang cepat, tidak melihat siapa saat menyerang, dan belum ada vaksinnya, bukan saatnya saling menyalahkan mencurigai, nyinyir, bully mem-bully. Saatnya kita bersatu padu, kencangkan ikat pinggang, lawan corona!

 

 

Sayangi Ginjalmu, Yuk Minum Air Putih!

Masih ingat dengan kisah 12 anak klub sepak bola yang terjebak di gua Thailand? Mereka selamat setelah terjebak selama sembilan hari di Gua Tham Lung, Provonsi Chiang Rai. Bersama pelatihnya, ke-12 anak itu berekreasi pada 23 Juni 2018. Namun, saat mereka ingin keluar, hujan mengguyur gua dan mengakibatkan banjir. Lalu bagaimana mereka bertahan hidup? Mereka hanya meminum air dari stalaktit yang menetes. Continue reading